Evakuator Bandung di Nepal Dapat Akses Lewat Udara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim Air Searching and Rescue, mendapatkan briefing terakhir dari Duta Besar Iwan Wiranataatmadja, sesaat sebelum terbang di Kathmandu, Nepal, 3 Mei 2015. Direktorat Perlindungan WNI dan BHI-Kemlu RI

    Tim Air Searching and Rescue, mendapatkan briefing terakhir dari Duta Besar Iwan Wiranataatmadja, sesaat sebelum terbang di Kathmandu, Nepal, 3 Mei 2015. Direktorat Perlindungan WNI dan BHI-Kemlu RI

    TEMPO.CO, Bandung - Dewan Pertimbangan Organisasi pencinta alam Taruna Hiking Club, Bobby Irham, mengatakan kelompoknya menerima informasi setiap hari dari tiga anggotanya yang dikirim ke Nepal untuk mengevakuasi tiga orang warga Bandung yang hilang. Dari informasi yang ia terima, salah satu evakuator THC berhasil memperoleh akses lewat udara untuk menuju daerah Langtang, Nepal.

    “Koordinasi dengan anggota di Nepal dilakukan setiap pukul 21.00. Daerah Langtang sangat sulit diakses, sehingga harus pakai helikopter,” kata Bobby, saat dihubungi Tempo, Ahad, 3 Mei 2015. Langtang merupakan daerah terakhir yang dicapai ketiga anggota THC. Dua evakuator lainnya, kata dia, saat ini tengah menyisir jalur darat untuk mencari keberadaan warga Bandung yang hilang.

    Ketiga evakuator yang dikirim THC yakni Gyaista Sampurno, Victor Tumaang, dan Adijana Gustiansyah alias Agung. Pada 2012, Gyaista bersama salah satu korban gempa Nepal, Jeroen, mendaki pegunungan di Nepal. Sedangkan Agung, yang juga merupakan anggota kelompok pencinta alam Wanadri, dipilih karena menjadi salah satu profesional yang diminta oleh Kementerian Luar Negeri.

    Kadek Andana, 27 tahun, Alma Parahita, 32 tahun, dan Jeroen Hehuwat, 39 tahun, adalah tiga warga Bandung yang diduga hilang di Negeri Seribu Kuil itu sejak gempa sebesar 7,8 skala richter yang terjadi di sana pada Sabtu 25 April 2015 pekan lalu.

    Kadek dan Alma merupakan pasangan suami istri yang baru menikah pada Maret 2015 lalu. Mereka merupakan pendaki gunung professional yang tergabung dalam kelompok pecinta alam Taruna Hiking Club sejak 2007. Setelah empat tahun berpacaran, mereka memutuskan untuk menikah pada Maret 2015 lalu.

    Sedangkan Jeroen, merupakan seorang General Manager perusahaan tekonoli air. Alumni Institut Teknologi Bandung angkatan 1993 ini bergabung dengan THC sejak tahun 1989. Jeroen merupakan salah satu pencinta alam terbaik yang dimiliki THC. Ia telah menaklukan sejumlah gunung tinggi di dalam dan luar negeri.

    Dia bercerita, tahun lalu, ketiga anggota THC yang hilang awalnya mendapat sponsor untuk mendaki gunung Kilimanjaro. Mereka mendapat sponsor dengan tiga orang anggota lainnya. Namun, karena tahun lalu Kilimanjaro dilanda virsus ebola, maka mereka mengganti lokasi ekspedisi. “Kami bagi menjadi dua, yakni tiga orang ke Gunung Yalapik, Nepal, dan tiga orang lainnya menuju Aconcagua, Argentina,” kata dia. Kedua gunung tersebut termasuk dalam kategori gunung tinggi di dunia.

    Selain ketiga evakuator dari THC, Pemerintah Kota Bandung pun mengirim dua orang profesional untuk menyelamatkan ketiga anggota THC. Ketiga anggota THC merupakan warga Bandung.

    Kemarin, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mendapatkan informasi terbaru terkait hilangnya tiga warga Bandung pasca gempa dahsyat di Nepal. “Mereka memastikan lokasi terakhir ketiga warga Bandung yang hilang tepatnya di Langtang, Nepal,” kata Ridwan Kamil saat ditemui Tempo di Pendopo Wali Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum, Bandung, Sabtu, 2 Mei 2015.

    Awalnya, terdapat lima warga Bandung yang hilang di sana. Namun, dua orang warga Berhasil ditemukan karena menyelamatkan diri menuju sebuah bandara di sana. Selain itu, Ridwan Kamil pun mendapat informasi bahwa evakuator yang dikirim Pemkot Bandung saat ini tengah menyisir seluruh rumah sakit di sana. “Karena takut terangkut oleh tim lain yang berada di sana, dan dibawa ke rumah sakit,” kata Ridwan Kamil.

    PERSIANA GALIH



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Enam Poin dalam Visi Indonesia, Jokowi tak Sebut HAM dan Hukum

    Presiden terpilih Joko Widodo menyampaikan sejumlah poin Visi Indonesia di SICC, 14 Juli 2019. Namun isi pidato itu tak menyebut soal hukum dan HAM.