Metode Kanguru dan Upaya Menekan Kematian Bayi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bayi. dailyalternative.co.uk

    Ilustrasi bayi. dailyalternative.co.uk

    TEMPO.COJakarta - Pelatihan bagi ibu-ibu hamil sangat diperlukan agar bayinya lahir dengan sehat dan tidak prematur.  "Bagaimana mereka menjaga kebersihan, kesehatan, asupan makanan, mengetahui gerak bayi di dalam kandungan dan informasi penting lainnya," kata Dr. dr Agus Supriyadi, Sp.OG, dokter kebidanan dan kandungan di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta.

    Menurut Agus, ibu hamil harus menjaga kesehatan agar tubuhnya tidak terinfeksi. Mulai dari kesehatan gigi, keputihan, saluran kemih dan lainnya. Karena, katanya kepada Tempo, 28 April 2015, infeksi menjadi salah satu faktor penyebab kelahiran prematur. Kelahiran ini  didefinisikan sebagai kelahiran hidup bayi kurang dari usia kehamilan 37 minggu.

    Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 44 persen kematian bayi di dunia pada 2012 terjadi pada 28 hari pertama kehidupan (masa neonatal). Penyebab terbesar (37 persen) ialah kelahiran prematur. Kelahiran prematur ini menjadi penyebab kematian kedua tersering pada balita setelah pneumonia.

    Ternyata Indonesia menempati peringkat kelima sebagai negara dengan jumlah bayi prematur terbanyak di dunia. Hal itu merujuk pada  laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berjudul Born Too Soon, The Global Action Report on Preterm Birth 2012. Jika tak ditangani dengan benar, proses tumbuh kembang bayi prematur akan terganggu, sehingga kualitas manusia Indonesia di masa depan terancam.

    Laporan PBB menyebut 15 juta bayi lahir prematur tiap tahun. Lebih dari satu juta bayi meninggal karena komplikasi akibat lahir prematur. Bayi yang hidup selamat pun banyak yang mengalami gangguan kognitif, penglihatan, dan pendengaran. Dari laporan itu, tahun 2010, Indonesia menempati peringkat kelima negara (675.700 bayi) setelah India (3,5 juta bayi), Tiongkok (1,2 juta bayi), Nigeria (773.600 bayi), dan Pakistan (748.100 bayi).

    Selain infeksi, kata Agus, sejumlah faktor menjadi penyebab kehamilan prematur, yakni hamil kembar, darah tinggi, dan keracunan kehamilan yang sering kali dialami ibu yang masih remaja. "Organ-organ reproduksi remaja belum matang atau sempurna," kata Agus yang meraih gelar doktor di Fakultas Kedokteran UI pada Februari 2015.

    Elizabeth Jane Soepardi, Direktur Bina Kesehatan Anak, Kementerian Kesehatan, menjelaskan 50 persen bayi prematur lahir dari ibu yang masih remaja. Padahal, di usia remaja, fisik dan otak seseorang masih tumbuh sehingga butuh asupan nutrisi yang baik. Walhasil, remaja tersebut akan berebut nutrisi dengan janin yang dikandungnya.

    Menurut Agus Supriyadi, biaya untuk merawat bayi prematur sangat mahal karena harus dimasukkan ke dalam inkubator. Dalam sehari, biayanya mencapai Rp 2-5 juta. Padahal, perawatan intensif ini butuh waktu sepekan hingga satu bulan, tergantung kesehatan bayi. Saat ini Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta  mampu menangani bayi prematur yang lahir dengan berat badan di atas 1000 gram.

    Para bidan di Rumah Sakit Harapan Kita juga menggunakan  metode kanguru, yaitu menempelkan atau mendekap bayi ke tubuh ibu dalam keadaan telanjang dan diselimuti. Dengan metode ini, sang bayi merasa berada lingkungan yang nyaman dan paling alamiah serta suhunya terjaga. Metode seperti di inkubator ini diterapkan dengan terlebih dulu melihat kondisi si bayi.

    Selain alat yang lengkap, kata Agus, keterampilan petugas kesehatan juga terus ditingkatkan, sehingga mampu menangani kelahiran bayi prematur di Rumah Sakit Harapan Kita. Termasuk menjaga masuknya kuman dari luar pada unit perawatan dan alat kesehatan. Upaya ini relatif murah dan sederhana sehingga dapat menekan kematian bayi yang lahir prematur.

    Günther Fink dari Harvard School of Public Health membuat kajian tentang kematian bayi dan upaya menguranginya  untuk lembaga Copenhagen Consensus Center.  "Perawatan yang tepat memiliki dampak yang sangat besar dan biaya yang dikeluarkan relatif kecil," katanya, seperti tertulis dalam buku The Smartest Targets for The World 2016-2030 terbitan April 2015, karya Direktur Copenhagen Consensus Center, Bjorn Lomborg.

    Dari kajian biaya dan manfaat,  Fink memperkirakan butuh dana 14 miliar dolar AS untuk mengurangi 70% kematian bayi di dunia.  Jumlah ini, katanya, kelihatannya banyak, tetapi manfaatnya jauh lebih besar, yakni lebih dari 120  miliar dolar AS per tahun. Untuk setiap satu dolar yang dihabiskan, katanya, akan membantu anak yang baru lahir ke dunia sekitar  9,2 dolar AS.

    Menurut Fink, mengurangi kematian bayi bukan satu-satunya target utama. Salah satu yang mendapat banyak perhatian adalah akses ke  kontrasepsi yang memungkinkan perempuan muda memiliki anak ketika waktunya tepat. Selain itu, bagaimana memberi mereka pekerjaan yang  lebih baik yang memungkinkan mereka berinvestasi lebih banyak bagi masa depan anak-anaknya.  Untuk upaya ini, kata Fink, biaya satu dolar yang dihabiskan dapat membawa manfaat senilai 120 kali lipat.

    Memang keluarga berencana adalah program baik yang harus dilakukan. Ada telaah lain soal investasi yang bisa dilakukan di sektor kesehatan kaum perempuan. Kajian ini dibuat Dara Lee Luca dan rekan-rekannya dari Harvard University.  Mereka melihat pada data global kanker rahim yang menjadi pembunuh nomor empat kaum wanita. Tiap tahun setengah juta kasus terdiagnosis di mana lebih dari 200.000 kematian. Ternyata, kata Dara Lee Luca seperti termuat dalam buku The Smartest Targets for The World 2016-2030,  sebanyak 85% kasus terjadi di  negara berkembang.

    Kini telah tersedia vaksin untuk mengatasi penyakit tersebut. Memang harganya masih mahal ketimbang obat biasa. Dari kajian  Dara Lee Luca, butuh biaya 25 dolar AS untuk setiap perempuan di negara berkembang agar terbebas dari penyakit itu. Vaksinasi 70%  anak perempuan akan menelan biaya 400 juta dolar AS. Upaya ini akan menyelamatkan 274 ribu perempuan di negara berkembang dari  kematian karena kanker rahim. Jadi, kesimpulan kajian itu, untuk setiap dolar biaya akan membawa manfaat 3 dolar AS.

    Pemerintah Indonesia telah membuat target untuk mengurangi angka kematian ibu (AKI), seperti tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015–2019.   Tertulis di dokumen itu yakni menurunkan AKI dari 359 per 100 ribu kelahiran hidup menjadi 306 per 100 ribu kelahiran hidup pada 2019.

    Sayangnya, untuk mewujudkan target tersebut masih menemui beberapa kendala. "Kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya  menjaga kehamilan menjadi kendala kami untuk mencapai target  tersebut," kata Menteri Kesehatan Prof. Nila F  Moeloek. Selain itu, ujarnya, pernikahan dini menjadi salah satu faktor  penyebab. Memang, ini jadi tantangan pemerintah dan masyarakat.

    UNTUNG WIDYANTO  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.