UN SMP, Komnas Anak: Tak Usah Kebut Semalam  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mengangkut soal Ujian Nasional (UN) SMP yang akan di distribusikan di Bogor, Jawa Barat, 30 April 2015. Ujian Nasional SMP dikuti oleh 15.734 siswa yang terbagi di 118 sekolah. Bogor belum siap melakukan UNl Online karena infrastruktur dan siswa belum siap. Lazyra Amadea

    Petugas mengangkut soal Ujian Nasional (UN) SMP yang akan di distribusikan di Bogor, Jawa Barat, 30 April 2015. Ujian Nasional SMP dikuti oleh 15.734 siswa yang terbagi di 118 sekolah. Bogor belum siap melakukan UNl Online karena infrastruktur dan siswa belum siap. Lazyra Amadea

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menyarankan siswa kelas IX SMP yang bakal mengerjakan Ujian Nasional pada Senin, 4 Mei 2015 hingga Kamis, 7 Mei 2015 tak belajar sampai larut malam. Kebiasaan yang dikenal sebagai sistem kebut semalam itu dinilai merugikan siswa.

    "Saat mengerjakan nanti malah stamina habis dan tak fokus," kata Arist di kantornya, di Pasar Rebo, Ahad, 3 Mei 2015.

    Menurut Arist, masa persiapan ujian sudah berjalan sejak beberapa bulan yang lalu. Bila, siswa serius menyiapkannya, maka masa tenang seperti sekarang bisa dipakai untuk rekreasi dan mencari hiburan. "Bercengkerama saja sama saudara dan orang tua. Baca buku sekali saja kalau ada yang lupa."

    Arist juga berpesan agar keluarga menjadi basis yang memberi dukungan pada siswa serta bukan malah menjadi beban dengan setumpuk nasehat dan wejangan menjelang anak mengerjakan soal. "Ayah dan ibu ajak anak berdoa bersama sebelum berangkat sekolah," Arist menambahkan.

    Terhadap pihak penyelenggara ujian, Arist meminta agar tak membangun suasana mencekam di ruang ujian. Tindakan itu malah membuat siswa ketakutan. Walhasil, proses mengerjakan soal jadi tak maksimal.

    Dia juga meminta siswa memahami bahwa ujian tak lagi jadi penentu kelulusan. Pandangan usang ini yang kerap membuat psikologi anak terbebani. "Ujian ini untuk mencari nilai di mana siswa bisa melanjutkan di sekolah favorit mereka," kata dia.

    RAYMUNDUS RIKANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Enam Poin dalam Visi Indonesia, Jokowi tak Sebut HAM dan Hukum

    Presiden terpilih Joko Widodo menyampaikan sejumlah poin Visi Indonesia di SICC, 14 Juli 2019. Namun isi pidato itu tak menyebut soal hukum dan HAM.