Shinzo Abe dan Xi Jinping Tiba di JCC

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Cina, Xi Jinping menerima kedatangan Presiden Indonesia, Joko Widodo dalam upacara penyambutan di Balai Agung Rakyat, di Beijing, Cina, 26 Maret 2015. REUTERS

    Presiden Cina, Xi Jinping menerima kedatangan Presiden Indonesia, Joko Widodo dalam upacara penyambutan di Balai Agung Rakyat, di Beijing, Cina, 26 Maret 2015. REUTERS

    TEMPO.COJakarta - Para kepala negara mulai berdatangan di lokasi pembukaan peringatan 60 tahun Konferensi Asia-Afrika di Jakarta Convention Center. Mereka mulai tiba di JCC sekitar pukul 08.30 WIB. Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, dan Presiden Cina Xi Jinping tampak sudah tiba di JCC.

    Beberapa kepala negara lain yang sudah hadir adalah dari Yordania, Angola, Zambia, Vietnam, Kamboja, Rwanda, dan Madagaskar. Setelah turun dari mobil, para kepala negara langsung masuk menuju lobi JCC kemudian melakukan sesi foto dengan Presiden Joko Widodo yang sudah siap menyambut. Setelah melakukan sesi foto, mereka langsung menuju tepat dilangsungkannya acara di Plenary Hall.

    Kepala Staf Kantor Presiden Luhut Pandjaitan mengatakan total delegasi yang datang di KAA mencapai 106 orang. Dari 106 delegasi tersebut, 29 di antaranya kepala negara. "Memang ada beberapa kepala negara yang tadinya dijadwalkan hadir tapi tidak hadir karena ada urusan internal di negaranya," ujarnya.

    Setelah melakukan sesi foto, pada pukul 09.15, Presiden Joko Widodo dijadwalkan memberikan pidato pembukaan peringatan 60 tahun KAA. Setelah pidato pembukaan, akan dilangsungkan plenary session kemudian makan siang bersama. Pada pukul 13.00, Presiden Jokowi akan memulai serangkaian pertemuan bilateral, antara lain dengan Cina, Jepang, Yordania, dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

    ANANDA TERESIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.