3 Kader Demokrat Somasi SBY, Ibas, dan Sjarifuddin Hasan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekjen Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mencium tangan ayahnya yang juga Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat tiba di areal Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Bali, Sabtu (30/3). Dalam KLB yang dipimpin E.E Mangindaan ini, SBY terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum partai. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Sekjen Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mencium tangan ayahnya yang juga Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat tiba di areal Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Bali, Sabtu (30/3). Dalam KLB yang dipimpin E.E Mangindaan ini, SBY terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum partai. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Tiga Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat dari Jawa Timur melayangkan surat somasi kepada Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ketua Harian Sjarifuddin Hasan, dan Sekretaris Jenderal Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas. Mereka menuntut agar jabatan mereka yang dicopot secara sepihak dikembalikan.

    Mereka memberi tenggat dua hari kepada ketiga petinggi partai tersebut untuk mengabulkan permohonannya. "Jika (mereka) tetap diam, kami laporkan ke polisi," kata pengacara ketiga kader itu, Rio Ramabaskara, dalam keterangannya di kawasan Senayan, Jakarta, Senin, 20 April 2015.

    Ketiga politikus Demokrat itu adalah Ketua Dewan Pimpinan Cabang Kota Pasuruan Dendy Kukuh Santoso, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Kabupaten Nganjuk Basuki, serta Ketua Dewan Pimpinan Cabang Kota Surabaya Dadik Risdaryanto.

    Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat memberhentikan Dendy melalui surat keputusan tertanggal 26 Agustus 2014. Adapun Basuki dan Dadik dipecat dari jabatan mereka tiga hari kemudian. Mereka digantikan Muhammad Reno Zulkarnaen, Muhammad Amin, dan Hartoyo. Rio mengklaim ketiga pelaksana tugas ketua dewan pimpinan cabang itu merupakan pilihan Syarief Hasan dan Edhie "Ibas" Baskoro.

    Basuki mengaku sakit hati atas pemecatan dirinya. Ia mengatakan tak pernah mendapat alasan pencopotan dari DPP Partai Demokrat. Bahkan, Basuki mendengar kabar pemecatannya dari rekan-rekan sesama kader Demokrat di Jawa Timur. Basuki sempat mendatangi kediaman SBY di Cikeas pada 6 November 2014 serta ke kantor dewan pimpinan pusat. "Tapi tak ada hasil," kata dia dalam rekaman video yang ditunjukkan Rio.

    Basuki menuding DPP Partai Demokrat tak mengacu pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga saat memecat dirinya. Akibat aksi pencopotan sepihak ini, Basuki kehilangan hak politiknya dalam Kongres III Partai Demokrat di Surabaya, 10-13 Mei mendatang. Basuki dan kedua rekannya tak bakal bisa memberikan suara dalam pemilihan Ketua Umum Demokrat yang baru.

    Politikus Demokrat I Gede Pasek Suardika mengatakan aksi pemecatan telah menimpa banyak pengurus cabang. Namun ia tidak dapat merinci jumlahnya. Pasek menduga para kader di daerah itu sengaja diberhentikan agar kehilangan hak politik dalam kongres. "Harusnya, sebelum kongres, semuanya diselesaikan, jangan lantas ada pecat-memecat," ujar dia. "Ini kan seperti ugal-ugalan di kepengurusan."

    Ketua Harian DPP Partai Demokrat Sjarifuddin Hasan mengatakan pencopotan Dendy, Basuki, dan Dadik sesuai dengan aturan partai. Mereka dicopot atas usulan pengurus Demokrat Provinsi Jawa Timur. "Lalu saya tandatangani," kata dia.

    Dadik dicopot karena dianggap tak pernah mengurus partai. Dendy dipecat lantaran tak aktif dalam pemilihan umum legislatif tahun lalu. Adapun Basuki dicopot karena diduga menilap dana saksi pemilu. "Ini introspeksi internal partai. Masak orang kayak gitu mau dipakai?" Syarief menegaskan.

    Aksi pencopotan, menurut Syarief, tidak berkaitan dengan kongres. Mereka dipecat jauh sebelum pelaksanaan kongres. Mantan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah itu balik menuding mereka hendak mengganggu kongres.

    INDRA WIJAYA | REZA ADITYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.