Sebelum Kabur, Mario Si Penyusup Ketus dengan Ayahnya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mario Steven Ambarita melompati pagar saat rekonstruksi kasus penyusupan ke pesawat di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 10 April 2015. (10/4). Mario nekat menyusup ke bagian roda belakang pesawat Garuda Indonesia tujuan Jakarta. ANTARA/FB Anggoro

    Mario Steven Ambarita melompati pagar saat rekonstruksi kasus penyusupan ke pesawat di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 10 April 2015. (10/4). Mario nekat menyusup ke bagian roda belakang pesawat Garuda Indonesia tujuan Jakarta. ANTARA/FB Anggoro

    TEMPO.COPekanbaru - Penyusup pesawat Garuda GA177, Mario Steven Ambarita, bersikap ketus kepada orang tuanya sebelum memutuskan kabur dari rumah, Sabtu dinihari, 18 April 2015. "Dia gampang marah kalau ada yang tidak dia senangi," kata ibu Mario, Tiar Sitanggang, saat dihubungi Tempo, Senin, 20 April 2015. 

    Menurut Tiar, dia dan suaminya, Manahan Ambarita, dibuat repot oleh kelakuan Mario. "Kami perlakukan dia dengan lembut agar tidak tersinggung," ujar Tiar. 

    Mario kerap marah tanpa sebab. Mario ketus saat ayahnya mencoba menyelimuti ketika dia tidur. "Mukanya menantang sambil ngomel-ngomel," ucap Tiar. 

    Menurut Tiar, tidak banyak kegiatan yang dilakukan Mario selama dua hari berada di rumahnya, Jalan Kapuas Ujung, Bagan Batu Rokan Hilir, Riau. Sejak diserahkan penyidik PPNS Kementerian Perhubungan pada Selasa malam, 14 April 2015, Mario lebih banyak beristirahat di rumah. 

    Mario patuh saat orang tuanya meminta memotong rambut sebagai bentuk buang sial atas kejadian lalu. "Kami suruh potong rambut, dia mau saja, sebagai bentuk buang sial atas kejadian lalu," tuturnya.

    Selama Mario di rumah, banyak kerabat dan tetangga yang datang mendengar ceritanya. Namun Mario tidak banyak cerita. Mario terkesan menutupi motivasinya nekat menyusup dalam rongga ban pesawat. "Dia hanya senyum-senyum saja sambil meminta kepada warga yang datang untuk melupakan hal yang telah terjadi," kata Tiar.

    Manahan Ambarita mengaku selalu mengawasi anaknya. Manahan turut mendampingi Mario saat bermain Internet. Tidak ada hal yang mencurigakan saat berada di warung Internet. "Di warnet, dia hanya buka berita-berita tentang dia yang sempat heboh itu," ujar Manahan. 

    Manahan sempat curiga saat mengetahui Mario telah kabur. Mario meninggalkan surat yang berisi pesan meminta orang tuanya tidak mengkhawatirkan dirinya. Mario meminta doa agar sukses di perantauan. "Kami udah mulai curiga dia pergi mengulangi lagi masuk ban pesawat," ucapnya. 

    Manahan dibuat bingung dengan ulah anak sulungnya itu. Menurut dia, sikap Mario jauh berubah, begitu juga dengan pola pikirnya. Dia menduga kejiwaan Mario terganggu akibat goncangan pesawat saat menyusup rongga ban pesawat Garuda di Pekanbaru dua pekan lalu. 

    "Sudah tidak stabil lagi pikirannya itu. Saya melihat Mario itu bukan dia yang sebenarnya," tuturnya.

    Manahan menuturkan sebenarnya pihak keluarga telah merencanakan pemeriksaan kejiwaan Mario di rumah sakit Pekanbaru, Selasa, 21 Maret 2015. Namun, belum sempat diperiksa, Mario telah kabur. 

    Sebelumnya, Mario yang berstatus tersangka kabur dari rumahnya di Bagan Batu, Rokan Hilir, Riau, Sabtu dinihari, 18 April 2015. Keluarga yang tidak mengetahui keberadaannya langsung melaporkan kejadian itu ke Kepolisian Sektor Bagan Sinembah, Rokan Hilir, dan Penyidik PPNS Kementerian Perhubungan. 

    Kisah Mario Steven Ambarita, 21 tahun, menumpang pesawat Garuda Indonesia GA177 dari Pekanbaru ke Jakarta pada Selasa, 7 April lalu, amat mengagetkan. Mario ditemukan petugas saat keluar dari dalam rongga pesawat Garuda Indonesia GA177 yang berangkat dari Bandara Syarif Hasim II, Riau, ke Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Selasa malam, 7 April 2015.

    Petugas di apron Bandara Soetta pun kaget. Mario langsung dibawa ke klinik untuk diperiksa kesehatannya. Tubuhnya membiru karena dekompresi dan kekurangan oksigen. Telinga kirinya pun mengeluarkan darah. 

    Meski ditetapkan sebagai tersangka pelanggaran Undang-Undang Penerbangan, Mario tidak dapat ditahan lantaran tuntutan hukumnya hanya 1 tahun penjara. Penyidik akhirnya membebaskan dan memulangkan Mario ke kampung halamannya di Bagan Batu, Rokan Hilir, pada Selasa, 14 April 2015. "Tapi proses hukum tetap berjalan dan terbuka," kata Ketua Tim Penyidik PPNS Kementerian Perhubungan, Rudi Ricardo.

    Dia dituduh melanggar Pasal 421 ayat (1) UU Penerbangan dengan hukuman 1 tahun penjara dan denda Rp 100 juta serta Pasal 435 UU Penerbangan dengan ancaman penjara 1 tahun dan denda Rp 500 juta.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?