Buku yang Membolehkan Membunuh Masih di Tangan Siswa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas perpustakaan menunjukan buku pelajaran baru kurikulum 2013 di SMA 68 Jakarta (15/07). Di hari pertama tahun ajaran 2013/2014, Kemendikbud menerapkan kurikulum baru 2013. TEMPO/Dasril Roszandi

    Petugas perpustakaan menunjukan buku pelajaran baru kurikulum 2013 di SMA 68 Jakarta (15/07). Di hari pertama tahun ajaran 2013/2014, Kemendikbud menerapkan kurikulum baru 2013. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Kediri - Kejaksaan Negeri Kota Kediri di Jawa Timur kesulitan menarik buku pelajaran agama yang mengajarkan radikalisme. Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk Kelas XI karangan Mustahdi dan Mustakim itu disebutkan sudah tersebar di kalangan siswa, dan sebagian belum bisa ditarik.

    Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Kediri Dody Boedi Rahardjo mengatakan buku pelajaran agama yang merupakan bagian dari program Kurikulum 2013 ini diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2014. Buku tersebut lalu dibagikan gratis kepada siswa melalui dana bantuan operasional sekolah. “Ada tiga sekolah di Kota Kediri yang menerima buku ini,” kata Dody kepada Tempo, Kamis, 16 April 2015.

    Sekolah-sekolah tersebut yakni Madrasah Aliyah Al-Huda, SMA Pawyatan Daha, dan SMA Negeri 4 yang memang ditunjuk Dinas Pendidikan Kota Kediri untuk melaksanakan program Kurikulum 2013. Masing-masing sekolah itu menerima buku tersebut sebanyak 600, 365, dan 102 eksemplar.

    Menurut Dodi, buku tersebut memuat materi radikalisme, tepatnya pada halaman 170 yang berbicara tentang tauhid. Pada halaman itu tertulis "Ajaran tauhid menurut pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab di antaranya yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah Swt, dan orang yang menyembah selain Allah Swt telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh".

    Materi tersebut dianggap mengandung paham radikal dan mengancam kerukunan umat beragama. Karena itu, Kejaksaan langsung bergerak ke tiga sekolah untuk melakukan penarikan dan pengamanan. “Tapi sayangnya tidak seluruh buku tersebut bisa ditarik, sebab sebagian besar sudah telanjur dibagikan kepada siswa,” kata Dodi.

    Dia menunjuk contoh yang terjadi di Madrasah Aliyah Al-Huda dimana sebanyak 235 buku disebutkannya masih nyantol di rumah siswa. “Pihak sekolah berjanji akan menarik secepatnya,” kata Dody.

    Untuk memperkuat tindakan penarikan tersebut, Kejaksaan juga berkonsultasi dengan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, yang tengah menyelenggarakan Bahtsul Masail atau forum diskusi antar-pondok pesantren yang membahas persoalan kekinian di masyarakat. Wakil Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur KH Muhibul Aman, yang menjadi salah satu anggota tim perumus Bahtsul Masail, dengan tegas mengatakan buku tersebut jelas-jelas menyimpang dan memuat ajaran radikal yang kini tengah diusung kelompok Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS.

    “Ada benang merah dengan akidah ISIS,” katanya saat menjelaskan materi buku tersebut di Lirboyo.

    Benang merah yang dimaksud adalah persamaan pandangan tentang Islam, khususnya akidah, dalam buku tersebut dengan paham kelompok Takfiri. Kelompok yang menjadi panutan ISIS ini dianggap kerap mengkafirkan orang lain sekalipun dia sesama Islam yang hanya tidak sependapat.

    Selain itu, kata-kata dalam buku yang berbunyi "boleh dibunuh" jelas menggambarkan perilaku kelompok radikal ISIS, yang memperbolehkan tindak penganiayaan, pembantaian, dan perampasan harta-benda terhadap orang yang dianggap kafir. “Kejaksaan harus melakukan langkah cepat untuk menarik buku tersebut sebelum dibaca anak didik,” katanya.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.