Menteri Susi Sebut Kasus Benjina Kejahatan Korporasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anak buah kapal asal Myanmar, Laos, dan Kamboja, yang bekerja di PT. PBR Benjina tiba di PPN Tual, Maluku, 4 April 2015. ANTARA/Humas Kementerian Kelautan Perikanan

    Sejumlah anak buah kapal asal Myanmar, Laos, dan Kamboja, yang bekerja di PT. PBR Benjina tiba di PPN Tual, Maluku, 4 April 2015. ANTARA/Humas Kementerian Kelautan Perikanan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meminta Kepolisian RI mengusut dugaan perbudakan di kapal PT Pusaka Benjina Resources sebagai kejahatan korporasi. Menteri Susi tak puas jika yang dijerat cuma karyawan perusahaan itu di lapangan. "Benjina itu sudah beroperasi bertahun-tahun," kata Susi di kantornya, Jakarta, Selasa, 14 April 2015.

    Menurut Susi, praktek perbudakan merupakan kekhasan illegal fishing. Susi mendesak korporasi ikut bertanggung jawab dalam kasus tersebut. "Mereka enggak bisa lepas tangan," kata Susi.

    Sebelumnya, Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti mengatakan Polri telah menetapkan dua tersangka dalam kasus perbudakan anak buah kapal di Benjina, Maluku. Kedua tersangka berasal dari PT Pusaka Benjina Resources. Kedua orang itu disangka menganiaya ABK dan terancam kurungan tujuh tahun. Adapun dugaan keterlibatan pemilik perusahaan tersebut masih diselidiki.

    Dalam penelusuran majalah Tempo, Tex Suryawijaya diketahui sebagai bos Pusaka Benjina. Grup ini tercatat mengoperasikan 96 kapal perikanan dengan nama lambung Antasena. Tapi Tex mengaku kepemilikan sahamnya di Pusaka Putra Bahari, yang menjadi induk tiga perusahaan lain, sudah diambil alih oleh perusahaan modal asing pada 2011.

    KHAIRUL ANAM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.