Cerita Syafii Soal Kenapa Megawati Kukuh Sokong Budi Gunawan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden (Wapres) Megawati Soekarnoputri bersama ajudan Kolonel Pol. B Gunawan pada sidang kabinet di Bina Graha, Jakarta, 11 Januari 2001. TEMPO/ Rully Kesuma

    Wakil Presiden (Wapres) Megawati Soekarnoputri bersama ajudan Kolonel Pol. B Gunawan pada sidang kabinet di Bina Graha, Jakarta, 11 Januari 2001. TEMPO/ Rully Kesuma

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Tim Sembilan Syafii Maarif mengatakan, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tetap ngotot meminta Presiden Joko Widodo melantik Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kepala Polri. Padahal, Jokowi berkukuh tidak akan memilih Budi Gunawan sebagai Kepala Polri.

    Menurut Syafii, alasan di balik kengototan itu lantaran Megawati menganggap kenal baik dan menilai Budi mampu mengemban tugas sebagai Kepala Polri. "Budi Gunawan itu ajudannya, sampai situ saja. Saya tidak mau mengatakan lebih," kata Syafii, seperti yang dikutip Majalah Tempo Edisi Senin, 2 Maret 2015.

    Tim Sembilan merupakan tim independen yang dibentuk Jokowi untuk mengurai kisruh antara Komisi Pemberantasan Korupsi dengan Mabes Polri terkait penetapan tersangka terhadap Budi Gunawan dalam kasus dugaan suap di Mabes Polri pada 2006-2010. Belakangan status tersangka Budi dibatalkan hakim praperadilan.

    Namun, Syafii mengatakan ada cerita lain mengenai alasan Megawati yang berkukuh meminta Budi dilantik. Dalam sebuah pertemuan dua jam pada Senin, 2 Februari 2015, Megawati blak-blakan menyampaikan uneg-unegnya. Syafii mengatakan, tokoh elite PDI Perjuangan lain yang hadir saat itu antara lain, Hasto Kristiyanto.

    Ceritanya, dalam pertemuan itu Syafii mendesak Megawati agar merelakan Budi Gunawan tidak menjadi Kapolri. "Saya bilang Megawati hebat seperti negarawan. Dalam soal Budi Gunawan ini, coba dipakai lagi parameter negarawannya karena pencalonanan BG sudah ditolak orang banyak," ucap Syafii.

    Namun, saran Syafii ditanggapi berbeda. Megawati berkukuh, Budi Gunawan harus tetap dilantik. "Mega mengatakan, 'Kalau mau memperbaiki negara ini, ya, dengan melantik BG, pintu masuknya di situ.' Tapi dia mengatakannya tidak emosi. Nah, di situlah perbedaan kami," ujar Syafii, mengenang obrolan ketika itu.

    Sewaktu pertemuan itu, Syafii mengaku tidak diintervensi oleh Mega cs. Syafii merasa dirinya sejajar dengan para elite partai itu. "Tidak ada permintaan sama sekali dari Megawati. Apalagi meminta supaya mendukung, tidak akan mungkin dia Megawati minta itu. Dia tahu betul saya," ucapnya.

    Dua pekan setelah pertemuan itu, Presiden Jokowi membatalkan pelantikan Budi Gunawan. Jokowi mengatakan pencalonan Budi telah menimbulkan perbedaan di masyarakat. Karena itu, Jokowi menyatakan menunjuk Komisaris Jenderal Badrodin Haiti sebagai calon Kepala Polri yang baru.

    TIM TEMPO | BC


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.