Senin, 28 Mei 2018

Kata Emil tentang Strategi Membangun Bandung

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil (kedua kiri), meresmikan Taman Alun-Alun, di Bandung, 31 Desember 2014. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil (kedua kiri), meresmikan Taman Alun-Alun, di Bandung, 31 Desember 2014. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Bandung - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan strategi pembangunan Bandung menerapkan tiga konsep, yakni inovasi, desentralisasi, dan kolaborasi. 

    "Segitiga ini yang coba kita terapkan sebagai strategi membangun Kota Bandung," kata Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, dalam acara diskusi komunitas Celah Celah Langit, di Jalan Setia Budhi, Ledeng, Kota Bandung, pada Jumat, 27 Februari 2015.

    Menurut Emil, inovasi penting karena pembenahan Kota Bandung agar lebih baik lagi memerlukan inovasi. "Bandros dan Command Center merupakan inovasi yang kita lakukan. Intinya, harus selalu ada kebaruan," ucap Emil.

    "Masalahnya, kita itu kebanyakan sibuk dengan aktivitas rutin, sehingga lupa berimajinasi, yang merupakan dasar untuk melakukan inovasi. Padahal bangsa kita itu dilahirkan dari imajinasi."

    ihwal desentralisasi, Emil mengatakan konsep itu diterapkan agar pembangunan Kota Bandung bisa lebih merata. "Itu kenapa kita naikkan anggaran untuk tiap kecamatan di Kota Bandung menjadi lima kali lipat. Tiap RW dikasih anggaran sebesar 100 juta, anggaran totalnya sekitar Rp 156 miliar."

    "Saya sedang melakukan eksperimen. Mudah-mudahan pada 2015 ini, dengan konsep dan pengawasan yang kuat, desentralisasi menjadi strategi yang tepat agar Bandung bisa lebih baik."

    Akan halnya kolaborasi, Emil mengatakan menitikberatkan pembangunan pada masalah perpaduan antara berpikir global dan lokal. 

    "Bagi saya, punya kompetensi global itu penting, mengakar pada budaya lokal pun penting. Jadi orang Bandung masa depan harus bisa bersaing di luar negeri dan harus punya akar budaya yang kuat di dalam negeri."

    AMINUDIN


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Dua Pendaki Mahasiswi Univesitas Parahyangan Gapai Seven Summits

    Pada 17 Mei 2018, dua mahasiswi Universitas Parahyangan, Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, menyelesaikan Seven Summits.