Korban Bius Buvanest Spinal-Kalbe: Kejang Hebat, Lalu...  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/Cheryl Ravelo

    REUTERS/Cheryl Ravelo

    TEMPO.COJakarta - Nama itu sudah lama disiapkan Rielda Amanda untuk bayi perempuannya: Alfathunnissa Nathania Arfand. Namun, sebelum sempat memangkunya, perempuan 33 tahun itu terlebih dulu berpulang.

    Rielda menjalani operasi persalinan caesar di Rumah Sakit Siloam, Tangerang, pada Rabu pekan lalu. Sebelum dioperasi, dokter menyuntikkan obat bius Buvanest Spinal yang dikeluarkan Kalbe Farma. Bukannya kebas, ia malah jadi gatal-gatal. Dokter sempat menduga Rielda mengalami alergi.

    Tak berselang lama, reaksi tak terduga terjadi: Rielda kejang-kejang. “Kejang-kejangnya cukup hebat, apalagi di bagian kaki,” sang suami, Ary Avianto, menceritakan lagi kejadian itu kemarin.

    Rielda kemudian dinaikkan ke meja operasi untuk menyelamatkan si jabang bayi lewat operasi caesar. Operasi selama 30 menit itu sukses. Dokter mengeluarkan seorang bayi perempuan dengan berat 2,88 kilogram dan panjang 47 sentimeter dari tubuh Rielda. Sang ibu lalu koma selama dua hari sebelum akhirnya dipanggil Yang Mahakuasa.

    Belakangan diketahui bahwa bukan Buvanest betulan yang masuk ke tubuh Rielda, melainkan Buvanest yang diduga sudah tercampur asam tranexamat. Bukan cuma Ida, pada hari yang sama di Rumah Sakit Siloam, seorang pasien juga meninggal gara-gara disuntik obat anestesi lancung tersebut.

    Mestinya hari ini, Ary, Rielda, dan anggota baru keluarga mereka sudah pulang ke rumah di Perumahan Cipondoh Makmur, Kota Tangerang, Banten. Di rumah itulah mereka tinggal selama tiga tahun ini.

    Ary Aviano, 33 tahun, masih mengingat pertemuan pertama dengan mendiang istrinya sebelas tahun yang lalu. Ketika itu, keduanya sama-sama bekerja sebagai karyawan Batavia Air di Batam, Kepulauan Riau. Rielda adalah atasannya. Namun perempuan ini supel terhadap bawahan dan senang membuat kehebohan. “Awalnya sering ledek-ledekan, tapi terus berlanjut,” kata Ary mengenang Ida—panggilan Rielda.

    Pada 2011, keduanya memilih jalur karier berbeda. Ida diterima menjadi pegawai Kementerian Perhubungan. Tak lama kemudian, Ary pindah ke Garuda Indonesia. Setahun kemudian keduanya menikah.

    Berpulangnya Ida membuat para tetangga merasa kehilangan. Seorang tetangga yang tak mau disebutkan namanya mengatakan Rielda adalah penyayang anak-anak. Perempuan setengah baya itu mengenang, semua anak kecil di blok perumahan itu dimandikan oleh Ida. “Dia yang memandikan, mengganti baju, dan dandanin,” katanya.

    Kini, Ary Avianto mesti merawat bayi Alfathunnissa Nathania Arfand sendirian. Sebuah nama yang telah disiapkan Rielda sejak jauh hari.

    JONIANSYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    RAPBN 2020, Ada 20 Persen untuk Pendidikan, 5 untuk Pendidikan

    Dalam RAPBN 2020, pembangunan Indonesia akan difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Berikut besaran dan sasaran yang ingin dicapai.