Inul Daratista Soal Pelapor Johan Budi: Mainnya Nggak Sehat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Inul Daratista. ANTARA/Muhammad Adimaja

    Inul Daratista. ANTARA/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelapor Johan Budi, Deputi Pencegahan Komisi Pemberantasan Korupsi yang baru ditunjuk sebagai pejabat sementara pimpinan lembaga antirasuah itu,  pernah terlibat saling lapor di Polda Metro Jaya dengan penyanyi dangdut Inul Daratista. Andar Situmorang, sang palapor itu, berseteru dengan Inul soal pelanggaran hak cipta, pencemaran nama baik, hingga dugaan menimbulkan keresahan masyarakat.

    Tapi,  Inul mengatakan kasusnya sudah beres. "Saya sudah beres urusannya sama dia (Andar). Mainnya enggak sehat, suka lapor-lapor," kata Inul melalui pesan singkat, Kamis, 19 Februari 2015.

    Kasus ini bermula pada saat Andar mewakili penyanyi Deddy Dores, melaporkan Inul ke Polda Metro pada 5 November 2008. Andar menuduh karaoke Inul Vizta tak membayar royalti lagu-lagu Deddy. Tak lama setelah itu, mereka saling adu mulut di media. Andar sempat menyebut kalau karaoke milik Inul adalah tempat perakitan bom. Inul pun dituduh ingin menggagalkan pemilihan umum.

    Tak terima disebut begitu, Inul melaporkan Andar ke Bareskrim Polri pada 18 Juni 2009. Tuduhan Inul, Andar Situmorang melakukan tindak pidana yang menimbulkan keresahan, pencemaran nama baik, dan pemerasan. Hal iti disebutkan dalam pasal 263, 264, 266, 355, 369, dan 372 Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

    Pada 24 Juni 2009, Andar malah balik melaporkan Inul ke Mabes Polri. Alasannya, Inul membuat bukti-bukti palsu dan telah membuat laporan palsu dalam laporannya menyangkut Andar Situmorang.

    Lalu bagaimana akhir kasus itu? Inul menolak berkomentar banyak. "Masalah itu sudah selesai lama sekali. Pengacara saya yang mengurus," kata Inul. "Saya disangkutpautkan lagi. Itu orang mainnya tidak sehat, suka main lapor."

    INDRI MAULIDAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.