Wakil Presiden Minta Agar Demonstran Tidak Anarkis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Wakil Presiden Hamzah Haz meminta aksi demonstrasi menuntut turunnya harga BBM, listrik dan telepon tidak dilakukan dengan anarkis. Diharapkan pula demontrasi tidak dipolitisir untuk menggulingkan pemerintah. Semua itu kan ada mekanismenya, mari kita salurkan untuk meningkatkan kemampuan dalam pemulihan ekonomi, kata Hamzah kepada wartawan usai salat Jumat (10/1) di Masjid Jami Al Mawardiyah, Jakarta Timur. Seperti diketahui, demonstrasi yang berlangsung di beberapa tempat, Kamis (9/1), diwarnai bentrokan antara pengunjuk rasa dengan aparat keamanan. Di depan Istana Merdeka terjadi aksi pemukulan, pelemparan batu, botol dan benda-benda lain. Di depan Kampus Universitas Moestopo, mahasiswa bahkan melukai polisi, merusak mobil dinas Kapolres Jakarta Selatan dan menyandera truk tanki. Menurut Hamzah, kalau demontrasi itu timbul akibat adanya kebijakan yang dianggap melanggar, maka itu tugas DPR untuk melakukan koreksi. Kita kan sudah baku dengan itu, ujar dia. Hamzah juga meminta agar massa tidak bertindak sepihak, tapi melihat alasan kenaikan itu kenapa sampai terjadi. Kita harapkan ini cepat ditampung DPR. Kalau mereka cepat ke DPR, saya kira demontrasinya sudah tersalurkan, kata Ketua Umum PPP itu. Sementara itu, aksi massa di depan Istana Merdeka jalan Medan Merdeka Utara Jakarta berakhir sekitar pukul 18.0 WIB. Namun, beberapa jam sebelumnya, suasana sempat memanas. Sebab, sesuai ketentuan UU No. 9 Tahun 1998, polisi berhak membubarkan aksi massa bila pada pukul 18.00 tidak juga membubarkan diri. Beberapa kali terjadi provokasi dari arah massa yang memancing kemarahan petugas. Provokasi di antaranya dengan membakar tiga buah ban, tepat didepan Istana Merdeka. Asap hitam mengepul ke polisi dan Istana. Sekitar pukul 17.30 WIB, sebanyak 8 truk berisi 4 SSK personel dari kesatuan Brimob Polda Metro Jaya tiba di lokasi memback up 6 SSK Brimob yang telah berada dilokasi sebelumnya. Ketika waktu menunjukkan pukul 18.15 WIB, situasi menampakkan ketegangan ketika mahasiswa tidak juga beranjak pulang. Sementara polisi dalam posisi siaga hendak menyerbu mahasiswa. Ketegangan mulai mereda ketika massa dari Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi mempelopori pulang, yang diikuti oleh mahasiswa lainnya. (Deddy Sinaga-Istiqomatul Hayati-Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.