Survei: Orang Riau Terbahagia, Yogya dan Bandung?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gambar rancangan wajah baru Taman Alun-alun di Bandung, Jabar, 4 September 2014. Pemerintah Kota Bandung merevitalisasi Taman Alun-alun agar menjadi lebih berkelas untuk mengembalikan fungsi alun-alun tersebut. TEMPO/STR/Aditya Herlambang Putra

    Gambar rancangan wajah baru Taman Alun-alun di Bandung, Jabar, 4 September 2014. Pemerintah Kota Bandung merevitalisasi Taman Alun-alun agar menjadi lebih berkelas untuk mengembalikan fungsi alun-alun tersebut. TEMPO/STR/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melansir indeks kebahagiaan masyarakat Jawa Barat, termasuk Bandung, berada pada skala 67,66 dari skala 100, lebih rendah dibanding rata-rata indeks nasional yang menempati angka 68,28. “Bisa dikatakan kebahagiaan orang Jawa Barat di bawah rata-rata orang Indonesia,” kata Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Jawa Barat, Dyah Anugrah Kuswardani, di Bandung, kemarin.

    Dibanding provinsi lainnya di Pulau Jawa, menurut BPS, Jawa Barat menempati urutan paling rendah. Indeks tertinggi adalah Yogyakarta sebesar 70,77, DKI Jakarta 69,21, Jawa Timur 68,7, Banten 68,24, serta Jawa Tengah 67,81.

    Di level nasional, posisi indeks tertinggi berada di Kepulauan Riau 72,42, disusul Maluku 72,12, Kalimantan Utara 71,45, Kalimantan Timur 71,45, Jambi 71,1, Sulawesi Utara 70,79, dan Yogyakarta. Yang mengejutkan, indeks kebahagiaan warga Papua Barat termasuk tinggi 70,45, sementara yang menempati posisi terendah adalah Papua 60,97, disusul Nusa Tenggara Timur 66,22 serta Sumatera Barat 66,79.

    Dyah menjelaskan, ada sepuluh indikator dengan pembobotan yang berbeda untuk mengukur indeks kebahagiaan. Di Jawa Barat, rinciannya adalah indikator pendidikan 57,68, pendapatan rumah tangga 62,04, kondisi rumah dan aset 64,15, pekerjaan 64,79, kesehatan 68,66, ketersediaan waktu luang 71,32, hubungan sosial 73,42, keadaan lingkungan 74,24, kondisi keamanan 75,12, serta keharmonisan keluarga 78,31.

    Menurut Dyah, hal yang menyumbang paling besar rendahnya indeks kebahagiaan adalah indikator pendidikan. “Tingkat kepuasannya hanya 57,68 persen. Paling rendah berada pada kepuasan di aspek pendidikan,” kata dia. “Bila dilihat dari aspek pendidikan, tamatan sekolah dasar memiliki indeks yang rendah.”

    Temuan unik lain, di antaranya, penduduk Jawa Barat berumur 25-40 tahun memiliki indeks kebahagiaan tertinggi. Berdasarkan jenis kelamin, perempuan ternyata lebih bahagia dibanding pria. Penduduk yang menikah juga lebih bahagia dibanding bujangan.

    Dyah mengatakan, jika membandingkan dengan indikator tingkat kepuasan, indeks kebahagiaan di Jawa Barat berada di bawah rata-rata nasional. “Selisih tertinggi ada pada aspek pekerjaan dengan capaian selisihnya 2,29 poin. Tingkat kepuasan masyarakat Jawa Barat dari sisi pekerjaan berbeda sangat signifikan dengan angka nasional,” kata dia.

    Menurut Dyah, untuk mendongkrak indeks kebahagiaan warganya, pemerintah Jawa Barat disarankan berkonsentrasi memperbaiki sektor pendidikan. “Tapi untuk pendidikan itu baru terasa dalam jangka panjang, tidak bisa instan. Artinya, generasi penerus yang akan merasakan ini,” kata dia.

    Dyah mengatakan indeks kebahagiaan mencerminkan perasaan masyarakat berdasarkan kondisi lingkungannya. Di Jawa Barat, survei dilakukan oleh BPS terhadap hampir 6.000 warga yang menjadi representasi wilayah.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Harley Davidson dan Brompton dalam Daftar 5 Noda Garuda Indonesia

    Garuda Indonesia tercoreng berbagai noda, dari masalah tata kelola hingga pelanggaran hukum. Erick Thohir diharapkan akan membenahi kekacauan ini.