Pengakuan Ratna Mutiara, Saksi Kunci Bambang KPK  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Salah seorang peserta aksi menggunakan topeng dari wakil KPK, Bambang Widjojanto. Aksi tersebut diadakan untuk mengkampayekan cinta KPK dan cinta Polri yang bersih. 25 Januari 2015. TEMPO/Dasril Roszandi

    Salah seorang peserta aksi menggunakan topeng dari wakil KPK, Bambang Widjojanto. Aksi tersebut diadakan untuk mengkampayekan cinta KPK dan cinta Polri yang bersih. 25 Januari 2015. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.COJakarta - Ratna Mutiara, saksi kunci kasus sengketa pemilihan kepala daerah Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, membantah pernah bertemu Bambang Widjojanto sebelum persidangan di Mahkamah Konstitusi. Ia mengatakan hanya bertemu Bambang dalam persidangan. Ratna membantah pernah diarahkan untuk memberi kesaksian palsu oleh Bambang, yang kini Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi. (Baca: Polisi Bisa Kecele, Saksi Malah Bela Bambang KPK)

    “Itu enggak ada briefing Pak Bambang. (Itu pun dalam briefing) wakilnya Pak Bambang omongkan bahwa sampaikan apa yang didengar, lihat, dan rasakan di desa, jangan sembarangan memberi kesaksian karena bapak-ibu mau disumpah, tolong bicara apa adanya,” ujar Ratna ketika ditemui di rumahnya, di Kotawaringin, Kalimantan Tengah, Sabtu, 24 Januari 2015. (Baca: Saksi Ungkap Peran Bambang KPK di Kasus Pilkada Kotawaringin)

    Pada pemilihan 2010, kubu Ujang Iskandar-Bambang Purwanto meraih 55 ribu suara, kalah dari pasangan Sugianto Sabran-Eko Soemarno yang menyabet 67 ribu dukungan. Kubu Ujang kemudian menggugat ke Mahkamah Konstitusi. Ujang menggandeng Bambang Widjojanto dan tim kuasa hukum dari Widjojanto, Sonhadji, & Associates, untuk menghadapi Sugianto di MK. (Baca: Apa Saja Instruksi Bambang KPK di Sidang MK? Ini Kata Saksi)

    Ratna adalah 1 dari 68 saksi yang dihadirkan dari Kecamatan Pangkalan Banteng. “Tiap kecamatan ada sekitar 12 saksi. Dari Kecamatan Pangkalan Banteng, ada delapan orang yang jadi saksi, semuanya tokoh masyarakat,” ujarnya.

    Ratna bersedia menjadi saksi karena memang mengetahui adanya politik uang yang diduga dilakukan oleh kubu Sugianto Sabran-Eko Soemarno selama kampanye pilkada Kabupaten Kotawaringin Barat. Setiap warga, dia melanjutkan, mendapat uang Rp 150 ribu, bahkan ada yang mendapat hingga Rp 600 ribu untuk satu rumah.

    ROSALINA

    Terpopuler:
    KPK-Polri, Samad: Apa yang Jamin Saya Selamat...? 
    Budi Gunawan Dilantik Besok? Jokowi... 
    Jagoan Hukum ke Istana, Jokowi Bikin Tim Khusus
    Ini Alasan Moeldoko Mengirim TNI Menjaga KPK
    Heboh KPK Vs Polri, Jokowi Diminta Carikan Pekerjaan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.