Keluarga Korban Air Asia Berebut Jadi Ahli Waris

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas bandara memeriksa tiga peti jenazah korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501, di dalam pesawat CASA NC212 Skuadron Udara 600 Wing Udara I Puspenerbal, sebelum terbang ke Base Ops Lanudal Juanda Surabaya, di Bandara Gusti Sjamsir Alam, Stagen Kota Baru, Kalsel, 17 Januari 2015. ANTARA/Eric Ireng

    Petugas bandara memeriksa tiga peti jenazah korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501, di dalam pesawat CASA NC212 Skuadron Udara 600 Wing Udara I Puspenerbal, sebelum terbang ke Base Ops Lanudal Juanda Surabaya, di Bandara Gusti Sjamsir Alam, Stagen Kota Baru, Kalsel, 17 Januari 2015. ANTARA/Eric Ireng

    TEMPO.CO, Surabaya-Ketua tim Disaster Victim Identification Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Polisi Budiyono mengatakan keluarga korban kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501 tidak menghambat saat petugas mencari data pribadi buat dicocokan dengan kondisi jenazah.

    Namun Budiyono tak menampik bahwa ada beberapa sanak kerabat mendiang yang ingin menonjolkan diri sebagai penanggung jawab jenazah. "Biasa, hanya seni pencarian data di lapangan," kata Budiyono di posko crisis center Polda Jawa Timur, Senin, 19 Januari 2015. (Baca berita terkait: Hampir Sebulan, 53 Korban Air Asia Ditemukan)

    Keterangan Budiyono itu menanggapi pernyataan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang mengatakan masih ada kerabat yang berusaha menghambat proses identifikasi saat tim DVI mendatangi rumah korban. Risma mengimbau keluarga korban tidak menutup-tutupi data.

    Menurut Budiyono, kondisi semacam itu biasanya terjadi pada keluarga yang seluruh anggotanya meninggal dalam tragedi Air Asia, sehingga orang-orang yang merasa menjadi ahli waris berebut menonjolkan diri. Kuatnya gesekan terkadang sampai menimbulkan perselisihan antarkerabat sendiri. "Kondisi seperti itulah yang kadang mempersulit pencarian data di lapangan," kata Budiyono. (Baca: Dua Hari, 6 Jenazah Korban Air Asia Gagal Dikenali  )

    Kesulitan yang dihadapi, kata dia, ialah ketika tim DVI mendatangi rumah korban namun tidak bisa langsung mengambil sampel DNA karena kerabat yang merasa punya hak atas jenazah minta dilibatkan. Padahal, mereka terdiri dari dua kelompok, yakni pihak suami dan istri. "Salah satu diantara dua pihak itu tidak ingin diabaikan perannya," ujar Budiyono.

    Dengan kondisi seperti itu tim DVI terpaksa menunggu dua belah pihak berkumpul dan baru kemudian bisa mengambil barang-barang pribadi yang diperlukan untuk keperluan proses identifikasi. "Seharusnya kedua belah pihak ini menyerahkan semuanya, namun ternyata di lapangan berkata lain. Jadi terpaksa kami harus menunggu," kata dia. (Baca: Polisi Kawal Pembayaran Asuransi Air Asia)

    Adapun solusinya, kata Budiyono, tim DVI melakukan pendekatan humanis untuk memberi pemahaman bahwa tujuan tim mengambil sampel DNA itu hanya untuk kebutuhan identifikasi agar prosesnya cepat selesai. 

    "Sesuai perintah Kapolri, kami akan terus melakukan berbagai cara untuk mengungkap identitas korban hingga tuntas," kata dia. (Baca pula: Di Mana Lokasi Pembayaran Asuransi Air Asia?)

    MOHAMMAD SYARRAFAH

    Berita Terpopuler:
    Presiden Jokowi Dimusuhi Tiga Negara
    PKS: Andai Budi Gunawan Ketua KPK Jadi Tersangka
    Nyawer ke Politikus PDIP, Apa Maksud Budi Gunawan?  
    Duka Air Asia, Ada Penghambat Identifikasi Korban
    Ahok Bakal Batasi Usia Mobil, Penjualan Akan Naik?

     

     












     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...