OKI Kutuk Serangan Charlie Hebdo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kantor media satir Prancis

    Kantor media satir Prancis "Charlie Hebdo"' di Paris. Media kontroversial yang terbit pada 1992 ini terkenal dengan publikasinya yang sering menyinggung Umat Muslim dan gerakan Islam radikal. PIERRE VERDY/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO , Jeddah: Beberapa hari setelah serangan terhadap tabloid mingguan Charlie Hebdo di Paris, Prancis, yang menewaskan 12 orang, Komisi Hak Asasi Manusia Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengeluarkan pernyataan mengutuk peristiwa tersebut.

    "Komisi HAM Independen Permanen OKI (Independent Permanent Human Rights Commission/IPHRC) mengutuk dengan istilah terkuat serangan teroris yang terjadi pada Rabu, 7 Januari 2015, di Paris di kantor Charlie Hebdo, majalah kartun mingguan di Paris, Prancis yang menewaskan 12 orang," demikian pernyataan yang disiarkan dalam OIC News, yang diterima Tempo, Senin, 12 Januari 2015. (Baca juga: Debat Charlie Hebdo di Redaksi Al Jazeera Bocor  )

    "Komisi menyesalkan tindakan barbar dan menyatakan solidaritas dengan keluarga korban serta bangsa Prancis atas kehilangan yang tragis ini."

    Dalam pernyataan itu, IPHRC menegaskan penolakan keras terhadap radikalisme, intoleransi dan terorisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, di mana pun mereka berada.

    Komisi juga menyatakan perlunya konsolidari regional dan internasional untuk mengatasi dan mengakhiri fenomena semacam itu.

    "Ini tugas kolektif masyarakat internasional untuk mengkonsolidasikan nilai-nilai kemanusiaan universal untuk memerangi intoleransi, diskriminasi dan kebencian serta mempromosikan dialog antar agama dan antar budaya untuk lebih memahami dan koeksistensi damai, sambil menghormati hak asasi manusia dan kebebasan fundamental," lanjut pernyataan tersebut.

    Komisi juga menekankan pentingnya penggunaan kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab, selaras dengan hak-hak asasi manusia,untuk membangun masyarakat demokratis yang damai dan progresif.

    Komisi HAM OKI juga menggarisbawahi pentingnya menghentikan penggunaan agama sebagai alasan untuk melakukan tindakan-tindakan yang salah seperti merusak, dan mencoret-coret tempat ibadah.

    Komisi juga memperingatkan agar kejadian di Paris tidak membuat stereotip, diskriminasi dan kebencian karena akan melayani tujuan ekstremis di kedua pihak, yang ingin menabur benih kebencian di antara masyarakat, budaya, dan agama.

    NATALIA SANTI

    Berita lain:
    Ikal Laskar Pelangi Oles Minyak ke Tubuh Mahar

    Tangis Ikal Sambut Jenazah Mahar Laskar Pelangi 

    Jokowi: Harga Baju di Bandung Terlalu Murah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.