Korban Kapal Oryong Dapat Kompensasi US$ 15 Ribu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) berdoa di dekat peti jenazah korban setibanya di Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, 9 Januari 2015. Sebanyak 13 Jenazah ABK kapal Oryong 501 yang merupakan WNI itu mengalami kecelakaan di Laut Bering, Rusia pada awal Desember 2014. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

    Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) berdoa di dekat peti jenazah korban setibanya di Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, 9 Januari 2015. Sebanyak 13 Jenazah ABK kapal Oryong 501 yang merupakan WNI itu mengalami kecelakaan di Laut Bering, Rusia pada awal Desember 2014. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

    TEMPO.CO, Slawi - Keluarga anak buah kapal (ABK) kapal Oryong 501 yang meninggal dunia mendapatkan kompensasi dari Sajo Industries sebesar US$ 15 ribu dolar. Sajo Industries adalah perusahaan pemilik kapal Oryong 501 asal Korea Selatan.

    “Selain itu, keluarga ABK Kapal Oryong 501 yang juga mendapat asuransi dalam negeri Rp 150 juta serta tunjangan dari agen yang memberangkatkan sekitar Rp 20-25 juta,” kata Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kabupaten Tegal Suspriyanti pada Jumat petang, 9 Januari 2015. (Baca juga: 16 Jasad ABK Kapal Oryong Dipulangkan Hari Ini)

    Suspriyanti mengatakan kompensasi, asuransi, serta tunjangan tersebut diberikan karena seluruh ABK kapal Oryong 501 asal Indonesia berstatus legal. “Proses pencairannya cepat. Uangnya sudah diserahkan beberapa waktu lalu, jauh sebelum jenazah anggota keluarga mereka tiba di Indonesia,” ujar Suspriyanti. (Baca juga: 14 Nelayan Pantura ABK Kapal Oryong yang Tenggelam)

    Pernyataan Suspriyanti diamini Titin Arlina, 31 tahun, warga Desa Gumayun, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal. “Sepekan setelah mendapat kabar suami saya meninggal, saya dipanggil ke PT Koindo Maritim di Jakarta. Uangnya langsung diberikan saat itu juga,” kata Titin yang merupakan istri Warno, satu dari lima ABK asal Tegal yang meninggal.

    Titin mengatakan, sebagian uang tersebut akan dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha toko kelontongnya. Meski masih berduka karena suaminya meninggal akibat tenggelamnya kapal Oryong, pada medio Desember 2014, Titin bertekad memulai usaha toko kelontong demi menghidupi kedua anaknya yang masih kecil.

    “Saya harus mengikhlaskan kepergian Mas Warno dan segera bangkit untuk hidup mandiri demi mereka,” ujar Titin sembari menggendong Firza Teguh Arifin, anak keduanya yang masih berumur tiga bulan. Adapun anak pertamanya, Nency Nur Indriani, baru duduk di bangku kelas I sekolah dasar.

    Oryong 501 adalah kapal penangkap ikan asal Korea Selatan yang tenggelam di Selat Bering, Rusia, pada 2 Desember 2014. Dari 60 awak kapal, 35 orang di antaranya warga Indonesia. Tiga ABK yang selamat tiba di Indonesia pada akhir Desember lalu. Adapun 16 jenazah ABK dipulangkan hari ini. Sedangkan 16 ABK lain belum diketahui nasibnya.

    DINDA LEO LISTY

    Berita lain:
    Tarif Pesawat Diatur, Selamat Tinggal Tiket Promo
    Di Australia, Dosen UIN Aceh Ikut Klub Gereja
    Ribut Izin Terbang, Menteri Jonan Mengadu ke KPK


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.