Penyelam Belut Air Asia Jumpa Hiu: Assalamualaikum  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala BASARNAS, F. Henry Bambang Soelistyo, menunjukkan foto ekor AirAsia Flight QZ8501 pada konferensi pers di Jakarta, 7 Januari 2015. Untuk menemukannya digunakan pemindai berupa side scan sonar dan multibeam echo sounder pada area seluas 10 x 6 kilometer. AP/Dita Alangkara

    Kepala BASARNAS, F. Henry Bambang Soelistyo, menunjukkan foto ekor AirAsia Flight QZ8501 pada konferensi pers di Jakarta, 7 Januari 2015. Untuk menemukannya digunakan pemindai berupa side scan sonar dan multibeam echo sounder pada area seluas 10 x 6 kilometer. AP/Dita Alangkara

    TEMPO.CO, Pangkalan Bun - Memotret alam bawah laut bukan perkara mudah. Penyelam harus bergelut dengan arus yang kencang dan pekatnya air di dasar laut. Sersan Mayor Rudi Hartanto, 47 tahun, menyelami ratusan kilometer perairan Indonesia lebih dari 24 tahun. Tak hanya menyelam, Rudi harus memotret setiap temuan untuk dokumentasi Dinas Penerangan Angkatan Laut Indonesia. (Baca: Kisah Penyelam Belut pada Pencarian Air Asia)

    Rudi biasa memotret bongkahan kapal atau pesawat karam, dan kondisi dalam tubing. Sebelum memotret, ia berkeliling mengecek kondisi bangkai kapal. Lagi-lagi, jika kapal jatuh sangat dalam dan kondisi air laut keruh atau berlumpur, ia harus menguji kepekaannya lewat jari.

    Terkadang, Rudi harus mengeruk pasir dan lumpur di bawah bongkahan untuk mengukur dimensi benda dan tekanan saat karam. "Semua benda yang jatuh di dalam air akan menancap di dasar. Lalu, sedimentasi lumpur atau pasir lama-lama akan menguruk benda," dia menjelaskan. Arus laut bisa menjadi kawan sekaligus musuh baginya. Jika ada arus, benda terus bergerak. Ia kesulitan memotret obyek buruannya. (Baca: Curhat Penyelam Air Asia, Bovlen-Oo dan Pembuktian)

    Sebelum memotret atau merekam video, Rudi mengikat diri pada tali yang dikaitkan ke salah satu bongkahan atau justru ke kapal. "Kalau ada runtuhan, penyelam mundur dengan tali. Jadi saya bisa keluar dalam zero visibility," kata Rudi.

    Ia pernah tersesat ke dalam rumah hiu saat menyelam di kedalaman 25 meter di Selat Sunda. Namun, bagi Rudi, hiu adalah kawan. Ia santai melewati kerumunan hiu tanpa diserang. "Hiu di Indonesia sabar-sabar. Kalau kita tidak kaget, dia tak menyerang. Yang penting disapa dulu dengan lembut, 'Assalamualaikum'," ujarnya. (Perjanjian Pranikah Korban Air Asia Susahkan Risma)

    Dalam misi penyelamatan korban dan pesawat Air Asia QZ8501, Rudi memotret beberapa bongkahan ekor pesawat pada kedalaman 30 meter Laut Karimata. Instruktur penyelam TNI AL ini akan menyelam lagi jika alat ROV telah mendeteksi black box di dalam ekor pesawat tersebut. "Penyelam bukan mencari, tetapi menemukan kepastian," kata Rudi.

    PUTRI ADITYOWATI

    Baca berita lainnya:
    Interupsi Khotbah Jumat, FPI: Itu Kurang Beradab
    Heboh, Dosen IAIN Ajak Mahasiswa Belajar di Gereja

    Soal Charlie Hebdo, Ini Kata Penulis Ayat Setan

    4 Kartunis Nyentrik Korban Serangan Charlie Hebdo

    'PNS Seksi' di Kota Bekasi Ditegur  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.