Jokowi Diingatkan Tolak Budi Gunawan untuk Kapolri  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kalemdikpol Irjen Pol Budi Gunawan. TEMPO/Subekti

    Kalemdikpol Irjen Pol Budi Gunawan. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Koordinator Divisi Monitoring Hukum dan Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Juntho mengatakan pihaknya bakal memperingatkan Presiden Joko Widodo ihwal calon Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Menurut Emerson, ICW tidak merekomendasikan Kepala Lembaga Pendidikan Komjen Budi Gunawan dan Asisten Operasi Kapolri Irjen Badrudin Haiti maju menjadi calon Kepala Kepolisian.

    "Pasti tidak (merekomendasikan). Jangan dipaksakan kalau punya kartu kuning," kata Emerson saat dihubungi Tempo, Senin, 5 Januari 2014. (Baca: Budi Gunawan Kapolri, ICW: Itu Mimpi Buruk)

    Sebelumnya, pada Juni 2010, majalah Tempo menulis laporan mengenai rekening gendut polisi. Dalam laporan itu, disebut per tanggal 19 Agustus 2008 kekayaan Budi Gunawan mencapai Rp 4,6 miliar. Dia juga dituduh melakukan transaksi dalam jumlah besar, tak sesuai dengan profilnya. Bersama anaknya, Budi disebutkan telah membuka rekening dan menyetor masing-masing Rp 29 miliar dan Rp 25 miliar.

    Sementara Badrodin Haiti per tanggal 24 Maret 2008 disebut memilik harta Rp 2 miliar dan US$ 4.000. Dia juga dituduh membeli polis asuransi pada PT Prudential Life Assurance Rp 1,1 miliar. Asal dana dari pihak ketiga. Menarik dana Rp 700 juta dan menerima dana rutin setiap bulan. (Baca: Pemilik Rekening Gendut Masuk Bursa Kapolri)

    Bila salah satu dari keduanya terpilih, kata dia, artinya ada proses pemilihan yang janggal. Sebab, keduanya pernah masuk dalam daftar pemilik rekening gendut. "Logikanya, pemilihan Menteri saja harus melalui saringan PPATK dan KPK. Kalau kedua calon itu lolos, lha ini ada apa?," ujar Emerson.

    Dampak yang terjadi bila Budi atau Badrudin terpilih, kepercayaan masyarakat terhadap polisi sebagai penegakan hukum akan berkurang bahkan hilang. Selain itu, menurut Emerson, polisi sulit menindak tegas kasus korupsi atau pencucian uang. (Baca: ICW Tak Kaget Kasus Rekening Gendut Marak, Kenapa?)

    Anggota Komisi Kepolisian Nasional M. Nasser mengatakan pihaknya masih memperdalam pengumpulan informasi rekam jejak kedua calon. Katanya, Kompolnas belum mendapat laporan soal dugaan kepemilikan rekening gendut kedua calon.

    Hingga saat ini, Kompolnas masih dalam tahap penyempurnaan informasi secara keseluruhan. Nama-nama calon Kapolri juga belum diserahkan ke Dewan Perwakilan Rakyat. "Belum sejauh itu. Kami masih menanyai mantan atasannya, mantan anak buahnya, tetangganya, si calon ini gimana," kata Nasser.

    Selain kedua calon tersebut, Kompolnas juga akan menggali informasi rekam jejak para polisi bintang tiga. "Kami belum mempertajam akan mengerucut ke siapa, yang jelas kami kumpulkan informasinya semua dulu," kata Nasser.

    DEWI SUCI RAHAYU

    Baca berita lainnya:
    Risma Tak Percaya Peringatan Dini Amerika Serikat

    Ribut Rute AirAsia, Menteri Jonan di Atas Angin?

    Jauhi Hotel dan Bank Terkait Amerika di Surabaya'

    Jonan Bekukan Rute AirAsia, Ada Tiga Keanehan

    Bos Air Asia: Headline Media Malaysia Ngawur  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uji Praktik SIM dengan Sistem Elekronik atau e-Drives

    Ditlantas Polda Metro Jaya menerapkan uji praktik SIM dengan sistem baru, yaitu electronic driving test system atau disebut juga e-Drives.