Jenazah Korban AirAsia dan Kisah Tukang Pel

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota TNI-AL membawa kantong jenazah korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di atas dek KRI Banda Aceh di Laut Jawa, 3 Januari 2015. Jenazah akan dievakuasi ke Pangkalan Bun, Kalimantan Selatan, dan diterbangkan ke Surabaya untuk diidentifikasi. TEMPO/Dian Triyuli

    Anggota TNI-AL membawa kantong jenazah korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di atas dek KRI Banda Aceh di Laut Jawa, 3 Januari 2015. Jenazah akan dievakuasi ke Pangkalan Bun, Kalimantan Selatan, dan diterbangkan ke Surabaya untuk diidentifikasi. TEMPO/Dian Triyuli

    TEMPO.CO, Pangkalan Bun - Cairan kuning pekat menetes-netes dari delapan kantong jenazah yang sedang diangkut tim Badan SAR Nasional menuju ranjang yang telah disiapkan Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Imanuddin, Pangkalan Bun. Serta-merta, bau menyengat menyeruak di sepanjang lorong RSUD hingga masuk ke ruang Disaster Victim Identification (DVI). (Baca: Ini 9 Korban Air Asia yang Telah Diidentifikasi)

    Dua wanita dengan sigap langsung membersihkan cairan kuning tersebut menggunakan kain pel yang dipasang pada sebuah tongkat dari pipa paralon. Mereka tampak mual, tapi tetap konsisten mengepel di belakang seorang pria yang memercikkan cairan disinfektan dan pemutih.

    "Ini yang paling bau menyengat, kemarin tidak sekuat ini baunya," kata seorang pembersih lantai, Sarinah, 23 tahun, Sabtu, 3 Januari 2015. (Baca: Tragedi Air Asia, Jenazah Wismoyo Dibawa ke Klaten)

    Jenazah yang baru diangkut dari Landasan Udara Iskandar ini sudah tujuh hari terendam dalam air. Menurut Direktur Eksekutif DVI Mabes Polri Komisaris Jenderal Anton Castilani, kondisi jenazah hampir rusak karena terlalu lama berada di dalam air.

    Sarinah dan rekannya, Anis Neni Yulianti, 39 tahun, mengatakan, sejak jenazah berdatangan, dirinya harus berkali-kali mengepel lantai. Biasanya, kata Sarinah, hanya sekali sehari. Upah mereka pun ditambah dua kali lipat untuk mengerjakan hal tersebut. Apabila sehari-hari mendapatkan Rp 25 ribu, kini mereka bisa mengantongi Rp 50 ribu sehari. "Tapi sebenarnya enggak kuat, mual. Di sini enggak ada nafsu makan," kata Sarinah. (Baca: 3 Korban Air Asia Teridentifikasi, Total 9 Jasad)

    Meskipun mual, Sarinah terlihat santai membersihkan kain pel yang telah digunakannya dengan tangan telanjang, tanpa sarung tangan. Sebab, ia alergi menggunakannya. Namun ia tak khawatir terserang penyakit karena sudah terdaftar sebagai penerima Jaminan Sosial Kesejahteraan. "Kalau memang harus sakit, ya, sakit saja," kata Sarinah.

    Tugas tambahan itu membuat Sarinah harus bekerja sejak pukul 05.00 hingga 20.00 bersama tiga kawan lainnya. Untuk shift malam, mulai bekerja sejak pukul 20.00 hingga 00.00. (Baca: Seahawk AS Bawa 3 Jenazah Air Asia QZ8501)

    Meskipun setiap hari membersihkan cairan dari kantong jenazah, Sarinah mengaku tak berani melihat jenazah. Ia merasa tak tega melihat banyak orang menjadi korban kecelakaan. "Apalagi kemarin ada yang seperti anak kecil, saya tak tega, ingat anak saya," ujar Sarinah.

    TIKA PRIMANDARI

    Baca berita lainnya:
    Jonan Balas 'Surat Cinta' Pilot Qatar Airways

    Surat Cinta Menteri Jonan untuk Para Pilot

    Bodi AirAsia Ditemukan, Kapal Singapura Dapat Apa?

    Jonan Bekukan Rute Air Asia, Singapura Bereaksi

    Penjelasan Jonan Soal Damprat Air Asia


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.