Musibah AirAsia, Diduga Ada Pelanggaran Prosedur

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Log book pengambilan bahan informasi cuaca di Stasiun BMKG Juanda Surabaya pada 28 Desember 2014. Tercatat AirAsia baru mengambil pada pukul 07.00. Istimewa

    Log book pengambilan bahan informasi cuaca di Stasiun BMKG Juanda Surabaya pada 28 Desember 2014. Tercatat AirAsia baru mengambil pada pukul 07.00. Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada dugaan baru seputar kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501. Berdasarkan penelusuran Tempo, setidaknya tiga kejanggalan muncul dalam tragedi di rute Surabaya-Singapura itu. Kejanggalan itu mengarah pada dugaan pelanggaran prosedur.

    Kejanggalan itu menyangkut tidak diambilnya dokumen cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga komunikasi pilot dengan menara pengawas udara (ATC). (Baca: BMKG: Air Asia Terbang Tanpa Bawa Laporan Cuaca)

    Kepala BMKG Andi Eka Sakya dalam suratnya yang ditujukan kepada Menteri Perhubungan Ignasius Jonan pada 31 Desember menyebut, “AirAsia baru mengambil bahan informasi cuaca pada jam 07.00 WIB sesudah terjadi lost contact QZ8501 dan bukan sebelum take off.” Data cuaca itu merupakan bagian dari prosedur standar penerbangan internasional yang tak boleh dilewatkan.

    Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Juanda Bambang Setiajid membenarkan soal keterlambatan AirAsia QZ8501 tersebut. Dalam catatan log book BMKG yang diterima Tempo dari seorang pejabat di pemerintahan itu, tak ada catatan pengambilan dokumen cuaca yang seharusnya diambil pada dua atau satu jam sebelum terbang pada pukul 05.36. (Baca: Korban AirAsia QZ8501 Ketemu, Masih Ada 10 Misteri)

    Kejanggalan lain terkait dengan dokumen keselamatan penerbangan. Asosiasi penerbangan Eropa pada awal Desember lalu menerbitkan peringatan agar pilot Airbus model 320 diwajibkan mempelajari petunjuk manual yang dikeluarkan perusahaan asal Eropa ini. Direktur Keselamatan Penerbangan Air Navigation Wisnu Darjono mengatakan tak yakin pilot AirAsia sempat membawa buku panduan terbaru tersebut.  “Normalnya itu dibawa pilot,” kata dia. (Baca: Teknologi ATC di Indonesia Jauh Tertinggal)

    Panduan tersebut, kata Wisnu, mestinya langsung diadopsi seluruh maskapai yang menggunakan pesawat jenis yang dimaksud. Panduan itu juga akan diadopsi oleh Kementerian Perhubungan sebagai panduan operasi penerbangan. “Saya belum tahu apakah itu sudah masuk dalam regulasi. Saya rasa belum,” ujarnya.

    Keganjilan lain terkait dengan percakapan pilot Irianto dengan petugas Air Traffic Control ketika meminta izin menggeser rute terbang dan naik ke ketinggian 38 ribu kaki pada pukul 06.12. Wisnu mengatakan pilot tak menyebutkan soal cuaca dalam permintaan itu. Tapi pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Udara Djoko Murjatmojo dalam jumpa pers 28 Desember lalu, mengatakan, “Pilot meminta geser ke kiri untuk menghindari awan.” (Baca: Prosedur Terbang Sebuah Pesawat, Ini Syaratnya)

    Pihak AirAsia belum memberi konfirmasi ihwal absennya dokumen cuaca dan keselamatan dalam penerbangan AirAsia QZ8501. Presiden Direktur Air Asia Indonesia Sunu Widyatmo kotak menjawab telepon ketika dihubungi kemarin.

    SYAILENDRA | RIKY FERDIANTO | SINGGIH SOARES | AGITA SUKMA LISTYANTI | URSULA FLORENE SONIA | PUTRI WIDYOWATI | PRU

    Berita Terpopuler
    Tim DVI Kembali Terima 2 Jenazah Korban Air Asia
    Info Identitas Korban Air Asia Lewat Satu Pintu
    Soal Bodi Pesawat AirAsia, Ini Kata Bos Basarnas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.