Korban AirAsia QZ8501 Ketemu, Masih Ada 10 Misteri  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat AirAsia Indonesia Airbus A320 pada saat peresmian operasional di Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Maret 2012. PT Indonesia AirAsia akan mengoperasikan 17 unit pesawat Airbus A320, menggantikan Boeing Classic 737-300. Dok. TEMPO/Jacky Rachmansyah

    Pesawat AirAsia Indonesia Airbus A320 pada saat peresmian operasional di Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Maret 2012. PT Indonesia AirAsia akan mengoperasikan 17 unit pesawat Airbus A320, menggantikan Boeing Classic 737-300. Dok. TEMPO/Jacky Rachmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Penemuan puing pesawat dan jenazah korban AirAsia QZ8501 tidak serta merta menjawab insiden yang terjadi menjelang akhir 2014 itu. Mengutip CNN, Kamis, 1 Januari 2015, setidaknya ada 10 pertanyaan yang perlu dijawab pihak terkait setelah ditemukannya jenazah dan sejumlah serpihan badan pesawat.

    1. Apa penyebab kecelakaan AirAsia QZ8501?
    Ini adalah pertanyaan besar yang harus dijawab. Sebelum hilang kontak, pilot pesawat AirAsia QZ8501, Kapten Irianto sempat meminta izin untuk berbalik dan naik karena cuaca buruk.

    Beberapa ahli penerbangan menduga pesawat tersebut mengalami stall aerodinamis karena kurangnya kecepatan terbang dan sudut naik yang terlalu tajam saat akan naik. Analis lain juga memperkirakan pilot pesawat tidak mendapatkan informasi dari onboard system tentang posisi pesawat dengan hujan yang kemungkinan dapat merusak mesin.

    Jawaban atas pertanyaan itu tampaknya ada di dalam kotak hitam yang mampu merekam seluruh percakapan di kokpit serta data penerbangan pesawat. "Sampai kotak hitam ditemukan, kita tidak akan tahu apa yang terjadi pada mesin," kata Bill Savage, mantan pilot dengan jam terbang selama 30 tahun.

    2. Bagaimana menemukan korban lainnya?
    Penemuan korban adalah prioritas pertama bagi mereka yang terlibat dalam pencarian. Helikopter dapat menurunkan tim untuk membantu mengangkat tubuh korban dan puing-puing pesawat di permukaan air. Penyelam juga diterjunkan untuk menemukan tubuh yang barangkali terperangkap di dalam reruntuhan badan kapal yang bisa jadi berada di dasar laut.

    Mantan Direktur Dewan Keselamatan Transportasi Amerika Serikat, Peter Goelz, mengatakan kemungkinan ada korban yang ditemukan di permukaan laut, ada pula yang di dasar laut Jawa. "Hal tersebut menjadi tantangan bagi penyelam untuk menemukannya," kata dia. Menurut dia, hal tersebut akan memakan waktu. "Mereka harus menemukan bidang puing-puingnya. Itu bisa membutuhkan waktu seminggu sampai 10 hari."

    Selanjutnya: Jenazah tak berpelampung, apa artinya?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.