Air Asia Ditemukan dalam 7 Hari, Ini Alasannya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Banyak spekulasi mengatakan bahwa awan Cumulonimbus ini sebagai penyebab dari hilangnya pesawat AirAsia QZ8501. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika mengatakan terdapat awan Cumulonimbus dalam rute penerbangan pesawat AirAsia QZ8501, 28 Desember 2014.  KAREN BLEIER/AFP/Getty Images.

    Banyak spekulasi mengatakan bahwa awan Cumulonimbus ini sebagai penyebab dari hilangnya pesawat AirAsia QZ8501. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika mengatakan terdapat awan Cumulonimbus dalam rute penerbangan pesawat AirAsia QZ8501, 28 Desember 2014. KAREN BLEIER/AFP/Getty Images.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat penerbangan, Dudi Sudibyo, optimistis pesawat Air Asia QZ8501 akan ditemukan oleh tim pencari. Alasannya, Selat Karimata yang menjadi fokus pencarian tidak memiliki palung atau jurang dalam di dasar laut. "Saya yakin akan segera ketemu dalam tujuh hari ini," katanya saat dihubungi, Selasa, 30 Desember 2014.

    Selat Karimata adalah selat yang menghubungkan Pulau Kalimantan dengan Pulau Sumatera. "Bila ada palung, kemungkinan terburuk, pesawat masuk dalam jurang dalam dan akan sepuluh kali lipat lebih sulit mencarinya," kata editor senior di majalah Angkasa ini. (Baca: Ombak dan Arus Ganas di Titik Hilang Kontak Air Asia)

    Selain itu, ujar Dudi, pencarian Air Asia QZ8501 juga jauh lebih mudah karena area yang disisir tidak luas. Hal ini berbeda dengan MH370 yang menghilang di Lautan Hindia. "Teknologi yang kita gunakan jauh lebih baik dibandingkan saat kecelakaan Adam Air pertengahan 2007," tuturnya.

    Namun faktor alam masih menjadi kekhawatiran sendiri. "Musim hujan sedang di awal puncaknya," katanya. Selain itu, gelombang laut setinggi 2-3 meter berpotensi terjadi di sejumlah perairan di Indonesia. "Faktor alam itu di luar kuasa manusia," ujarnya. "Saya tetap yakin, kalau cuaca cerah dan jarak pandang bagus, pesawat itu akan segera ditemukan." (Baca: Ombak dan Arus Ganas di Titik Hilang Kontak Air Asia)

    Hari ini merupakan hari ketiga operasi pencarian Air Asia jurusan Surabaya-Singapura yang hilang sejak Ahad pagi, 28 Desember 2014. Pesawat nahas itu berangkat dari Bandar Udara Juanda, Surabaya, menuju Bandar Udara Changi, Singapura, pada pukul 05.27 WIB. Namun, sekitar pukul 07.27, pesawat jenis A320-200 ini hilang kontak setelah terbang di ketinggian 32 ribu kaki. Diduga, pesawat tersebut jatuh di daerah perairan Tanjung Panjang, Bangka Belitung.

    Sebelum komunikasi antara pilot dan pengawas penerbangan bandara terputus, pilot Air Asia QZ8501 sempat meminta naik ke ketinggian 38 ribu kaki. Pesawat yang membawa 162 orang ini dipiloti Kapten Irianto. Mereka terdiri atas 156 warga Indonesia, 3 warga Korea Selatan, serta masing-masing 1 warga Malaysia, Prancis, dan Singapura. (Baca: Kapal Singapura Bersonar Cari Air Asia Hari Ini

    INDRI MAULIDAR

    Baca juga:
    Air Asia Hilang, Ahok: Laut Belitung Banyak Jin 
    Pesan Penumpang Air Asia: 'Goodbye Forever' 
    Empat Beda Raibnya AirAsia dan MH370
    Mengapa ELT dan Pinger AirAsia Tak Berbunyi?
    Penumpang AirAsia Ini Jago Sains


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.