Selasa, 22 September 2020

Awan Cumulonimbus Ancam Pencarian AirAsia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Airbus A320, takes off dari Ronald Reagan Washington National Airport di Arlington, Virginia, 23 September 2013. Pesawat A320-300 milik penerbangan Air Asia Indonesia hilang kontak pada 28 Desember 2014 saat penerbangan dari Surabaya-Singapura. AFP PHOTO / Saul LOEB

    Airbus A320, takes off dari Ronald Reagan Washington National Airport di Arlington, Virginia, 23 September 2013. Pesawat A320-300 milik penerbangan Air Asia Indonesia hilang kontak pada 28 Desember 2014 saat penerbangan dari Surabaya-Singapura. AFP PHOTO / Saul LOEB

    TEMPO.CO, PONTIANAK - Tim pencari AirAsia QZ8501 yang dipimpin Basarnas akan bekerja keras hari ini, Senin, 29 Desember 2014. Namun cuaca buruk dan awan cumulonimbus kerap muncul di wilayah pencarian.

    Situs resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melansir wilayah Kepulauan Belitung, Pangkal Pinang, dan Tanjung Pandan diselimuti cuaca buruk. Begitupula kawasan Sampit, Kalimantan Tengah diprediksi hujan dan angin.(baca:Cari Air Asia,TNI AU Sisir Perairan Tanjung Pandan)

    Staf Perkiraan BMKG Pangkal Pinang Akhmad Fadoli menuturkan, cuaca buruk, tingginya curah hujan, serta petir di wilayah udara Bangka Belitung dan sekitarnya masih berlangsung hingga sepekan. Cuaca tersebut karena intensitas pertumbuhan awan comulonimbus naik.

    “Kawasan dimana rute AirAsia QZ8501 dari Surabaya ke Singapura dari pantauan kita dipenuhi awan konvertif, terutama awan comulonimbus. Ini yang membahayakan penerbangan, termasuk proses pencarian," ujar Akhmad Fadoli kepada Tempo, Minggu, 28 Desember 2014.(baca: Pencarian Air Asia Difokuskan di Sini)

    Menurut Akhmad, pertumbuhan awan konvertif, terutama awan comulonimbus semakin naik. Ini akan menjadi kendala bagi pesawat yang terbang di wilayah udara Bangka Belitung," ujarnya. (Baca:Begini Kondisi Awan Saat AirAsia Hilang Kontak)

    Akhmad mengatakan citra radar BMKG Pangkal Pinang tidak mampu menjangkau koordinat di lokasi yang diduga jatuhnya pesawat AirAsia, di antara perairan Belitung Timur dan Kalimantan. "Dari jangkauan yang masih bisa kita lihat, memang terpantau pada waktu pesawat hilang kontak terindikasi cuaca buruk," ujarnya. (Baca: 5 Teori Hilangnya Pesawat Air Asia)

    Kemarin sore, Ahad, 28 Desember 2014, helikopter Super Puma milik Lanud Supadio Pontianak terpaksa kembali ke pangkalan setelah sejam mencari AirAsia. "Cuaca diatas buruk, awan rendah, Helikopter yang terbang rendah saja kesulitan menembusnya," kata Komandan Pangkalan Udara Lanud Supadio Pontianak Kolonel Pnb Tedi Rizalihadi, Ahad, 28 Desember 2014, di Posko Basarnas, kantor SAR Pontianak.

    Titik pencarian yang terdeteksi radar Bandara Supadio Pontianak berada di 209 nautical mile, di antara Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat dan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Terjadinya pergeseran titik pencarian, dimungkinkan karena pesawat tersebut berada di air.

    "Sinyal yang dipancarkan transpoder pesawat tersebut terakhir tertangkap oleh radar bandara di sekitar Kendawangan dan Pangkalan Bun," ungkap General Manager PT Angkasa Pura II Bandara Supadio Pontianak Chandra Dista Wiradi.

    SERVIO MARANDA |  ASEANTY PAHLEVI

    Berita terkait
    Pelaut Ini Mengaku Lihat Pesawat Mirip AirAsia
    Kasus AirAsia, Mengapa Pesawat Bisa Hilang Kontak?
    ATC Klaim Pilot AirAsia Sebut Cuaca Aman


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.