Kalah Canggih, Kapal TNI Sulit Kejar Kapal Asing  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Potongan badan kapal ikan ilegal berterbangan ketika ditenggelamkan di Perairan Teluk Ambon, Maluku, 21 Desember 2014. Terdapat 45 ABK warga Thailand dan 17 ABK warga Kamboja yang diamankan dalam penangkapan ini. FOTO: Seskab RI Andi Widjajanto

    Potongan badan kapal ikan ilegal berterbangan ketika ditenggelamkan di Perairan Teluk Ambon, Maluku, 21 Desember 2014. Terdapat 45 ABK warga Thailand dan 17 ABK warga Kamboja yang diamankan dalam penangkapan ini. FOTO: Seskab RI Andi Widjajanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Moeldoko mengatakan tidak mudah menangkap kapal nelayan asing yang mencuri ikan. Patroli TNI Angkatan Laut terkendala wilayah laut Indonesia yang sangat luas.

    "Pencuri ikan memanfaatkan luasnya wilayah laut Indonesia," kata Moeldoko kepada wartawan di Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 22 Desember 2014. (Baca: Lindungi Kapal Vietnam, Menteri Susi Diprotes)

    Menurut Moeldoko, kapal-kapal patroli Angkatan Laut tersebar di sejumlah titik strategis di perairan Indonesia. Sebagian besar berjaga di tiga jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) di wilayah barat, tengah, dan timur.

    Ada juga kapal patroli yang berjaga di zona perbatasan. Namun jumlah kapal nelayan asing yang begitu banyak tetap membuat patroli TNI kewalahan. Seperti bermain kucing-kucingan, para pencuri ikan selalu bisa menghindari kapal patroli Indonesia.

    "Mereka sama-sama punya radar, bahkan lebih canggih, bahkan kapal mereka lebih cepat daripada kapal patroli TNI," kata Moeldoko.

    Walhasil, setiap ada laporan keberadaan kapal-kapal nelayan asing masuk ke Indonesia, petugas patroli tak bisa langsung menangkap mereka. Para nelayan asing itu bisa lebih dulu kabur menghindari sergapan kapal TNI AL.

    "Butuh waktu dan tenaga juga mengirim kapal patroli di wilayah yang didatangi pencuri ikan," kata Moeldoko. (Baca: Hanafi Rais Visi Maritim Jokowi Jangan Nanggung)

    Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Marsetio menambahkan, kapal patroli Angkatan Laut sering terlambat mendatangi lokasi yang dilaporkan menjadi sasaran illegal fishing. Sebagai contoh, Angkatan Laut menerima laporan pencurian ikan di perairan Arafuru oleh pesawat intai TNI Angkatan Udara. Maka kapal perang berukuran besar, seperti Fregate dari Ambon, Maluku, membutuhkan waktu 2-3 hari untuk sampai ke perairan Arafuru.

    "Itu kapal besar, kalau kapal kecil lebih lama lagi. Kami sampai mungkin saja mereka sudah kabur," kata Marsetio.

    INDRA WIJAYA

    Topik terhangat:
    Longsor Banjarnegara | Pembatasan Motor | Kasus Munir | Susi Pudjiastuti

    Berita terpopuler lainnya:
    Soal Lapindo, Ruhut: Ical Bisa Ditertawakan Kodok
    Priyo Budi Diam-diam ke Rumah Akbar Tandjung

    Ucapan Natal, Yenny Wahid: Jokowi Jangan Dengar FPI

    Ahok Mencak-mencak di Balai Kota, Apa Sebabnya?



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ekspor Benih Lobster, dari Susi Pudjiastuti hingga Edhy Prabowo

    Kronologi ekspor benih lobster dibuka kembali oleh Edhy Prabowo melalui peraturan menteri yang mencabut larangan yang dibuat Susi Pudjiastuti.