Eva Bande, Dipenjara Gara-gara Bela Petani

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Eva Bande. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Eva Bande. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO , Jakarta -   Nama Eva Susanti Hanafi Bande kerap menjadi pemberitaan setelah ibu tiga anak itu dilaporkan ke polisi oleh manajemen PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS).  Tuduhan terhadap Eva cukup  serius, yaitu menghasut warga untuk berunjuk rasa yang berujung pengerusakan aset milik PT Kurnia.

    Peristiwa itu terjadi empat tahun lalu. Pengadilan juga sudah menjatuhkan vonis empat tahun untuk Eva.  Namun Eva tidak perlu menghabiskan seluruh masa hukumannya. Sebab Presiden Joko Widodo mengabulkan permohonan grasi yang diajukan Eva. 

    Jokowi juga sudah menandatangani Keputusan Presiden terkait grasi itu pada 19 Desember 2014. Rencananya, Jokowi akan menyerahkan langsung Keppres itu secara simbolis kepada Eva pada peringatan Hari Ibu di Ciracas, Jakarta Timur, 22 Desember ini (baca: Dapat Grasi dari Jokowi, Eva Bande: Ini Keajaiban). 

    Siapakah perempuan yang sering dipanggil Eva Bande itu?   Eva  lahir di Luwuk, Sulawesi Tengah,  36 tahun silam. Dia menamatkan  SMA di Kota kelahirannya itu kemudian  melanjutkan pendidikan di  Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Tadulako.  Eva lulus sebagai sarjana pada  1998.

    Semasa  dibangku kuliah, Eva sudah akrab dengan dunia aktivis karena sering terlibat  dalam gerakan mahasiswa. Latar belakang ini lah yang membuat Eva langsung bergerak ketika mendengar para petani di Desa Bumi Harapan, Kecamatan Toili Barat, Banggai, Sulwesi Tengah, diperlakukan semena-mena oleh PT Kurnia. Dia turut mengadvokasi petani  untuk memprotes tindakan perusahaan kelapa sawit itu.

    Unjuk rasa yang semula damai berakhir ricuh. Warga tidak bisa membendung kemarahan. Mereka membakar sejumlah aset dan fasilitas milik perusahaan. Ujungnya, Eva ditangkap dan ditahan pada 15 Mei 2010  karena dituduh sebagai penghasut (baca juga: Harapan Aktivis HAM dari Balik Jeruji kepada Jokowi). 

    Sebelum masa sidang usai, masa penahanan Eva  sudah habis. Ia keluar pada Oktober 2010, setelah tinggal  4 bulan 25 hari di ruang tahaan.

    Dalam persidangan, Eva kemudian divonis 4 tahun. Vonis ini lebih tinggi dari tuntutan jaksa 3 tahun 6 bulan. Eva kemudian mengajukan banding namun ditolak. Ia kemudian dieksekusi pada 15 Mei 2014 di Yogyakarta setelah sebulan masuk dalam Daftar Pencarian Orang.

    ALI HIDAYAT | AMAR BURASE 

    Berita lain:
    'Kalau Lapindo Salah, Kamu Pikir Jokowi Mau' 

    Muhammadiyah Tak Haramkan Muslim Ucapkan Natal 

    10 Penemuan Ilmiah Paling Menghebohkan 2014





     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.