Petani Minta Pemerintah Awasi Impor Gula Rafinasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani tebu se-Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia berunjukrasa di depan gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (17/9). Dengan delapan pabrik gula rafinasi yang telah ada, produksi gula sudah melebihi kebutuhan industri makanan dan minuman. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Petani tebu se-Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia berunjukrasa di depan gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (17/9). Dengan delapan pabrik gula rafinasi yang telah ada, produksi gula sudah melebihi kebutuhan industri makanan dan minuman. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Cirebon - Petani lokal minta pemerintah awasi masuknya gula impor rafinasi. Karena realisasi impor gula rafinasi selalu melebihi kebutuhan sehingga harga gula petani pun jatuh."Kebutuhan gula nasional mencapai 5,7 juta ton, sedangkan produksi gula lokal hanya sekitar 2 juta ton dan gula rafinasi kurang lebih 1,6 juta ton," kata Sekretaris Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTRI) Jawa Barat, Haris Sukmawan, Selasa 9 Desember 2014.

    Ini berarti, lanjut Haris,  masih dibutuhkan sekitar dua juta ton impor gula. Namun yang terjadi di lapangan, impor justru lebih tinggi dari kebutuhan, terutama untuk gula rafinasi. Akibatnya gula rafinasi pun beredar bebas di pasaran. "Ddampaknya, harga gula produksi petani pun saat ini hanya dihargai Rp 7.900- Rp 8 ribu/kg," kata Wawan.

    Padahal, kata Wawan, investor sudah memberikan dana penyangga kepada petani dengan harga Rp 8.500/kg atau sesuai dengan harga dasar gula yang ditetapkan pemerintah. Jika harga gula terus turun, Wawan khawatir tidak akan ada lagi investor yang bersedia memberikan dana penyangga kepada petani. 

    Kondisi ini diperparah dengan produksi gula petani yang masih menumpuk di empat gudang pabrik gula (PG). Masing-masing PG Sindanglaut, Tersana, Karangsuwung, dan Jatitujuh. Di empat PG tersebut jumlah gula yang menumpuk sedikitnya mencapai 270 ribu/kwintal atau 27 ribu ton. "itu merupakan gula produksi 2013 dan 2014," kata Wawan.

    Wawan mengatakan, dia juga tak tahu apakah hari ini tumpukan gula tersebut sudah terjual atau belum. Kalau belum terjual bahkan lebih parah lagi. Karena  akan berdampak pada musim giling Mei 2015 mendatang. Karena harga gula pada musim giling tahun depan bisa lebih jatuh lagi akibat tumpukan gula produksi 2013-2014 tersebut. 

    Tahun ini, lanjut Wawan, merupakan masa yang berat bagi petani tebu. Dari segi harga, rendemen, maupun produksi, semua terpuruk. Selain harga yang anjlok, tingkat rendemen tebu juga hanya 6,1 hingga 6,2.Padahal seharusnya rendemen mencapai 7. "Rendahnya tingkat rendemen berakibat pada target produksi gula yang tidak tercapai," kata dia.

    Seorang petani tebu di Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Ridwan, berharap, pemerintah benar-benar berpihak pada nasib petani tebu lokal. Banyaknya gula rafinasi yang merembes ke pasaran secara bebas membuat harga gula produksi petani lokal turun. "Jika terus menerus dibiarkan, kami akan bangkrut," ujar dia. 

     

    IVANSYAH

    Terpopuler:


     






     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.