Munir dan Penelusuran Terbaru Tempo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang aktivis mengenakan topeng Munir saat aksi Kamisan di seberang Istana Merdeka, Jakarta Pusat (16/1).  ANTARA/Fanny Octavianus

    Seorang aktivis mengenakan topeng Munir saat aksi Kamisan di seberang Istana Merdeka, Jakarta Pusat (16/1). ANTARA/Fanny Octavianus

    TEMPO.CO, Jakarta -  Kolonel Budi Santoso blakblakan menceritakan rencana Badan Intelijen Negara melenyapkan aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib pada 2004. Ia memberi kesaksian kepada penyidik sepanjang 2007-2008, ketika pengadilan terhadap Deputi Penggalangan BIN Muchdi Purwoprandjono tengah digelar. (Dibebaskan, Pollycarpus Tetap Merasa Tak Bersalah)

    Budi harus bersaksi di Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia karena terancam akan dibunuh jika pulang. Ketika kasus Munir terkuak, ia dipindahkan ke Kedutaan Indonesia di Pakistan. “Jika saya dihabisi, kasus Munir akan ditimpakan kepada saya,” katanya dalam kesaksian pada 7 Mei 2008.

    Penampilan Budi yang terlihat dari rekaman video tak seperti anggota militer. Jenggotnya panjang dan putih. Ia terlihat berpikir keras setiap kali menjawab pertanyaan penyidik. Berkali-kali pula ia mengusap mata dan mengubah posisi duduknya. Ia tampak tertekan dan gelisah. (Istri Munir: Jokowi Jangan Jualan Janji)

    Di Pakistan, tugas Budi memantau mahasiswa Indonesia untuk mencegah paham radikal Islam berkembang di kampus. Ia rutin membuat laporan ke Jakarta ihwal aktivitas dan lalu lintas keluar-masuk mahasiswa. (Soal Munir, TPF Sudah Curigai Hendropriyono

    Kesaksiannya mencengangkan karena mengungkap detail rencana pembunuhan Munir. Ia selalu dilapori Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda terpidana peracun Munir, sepanjang operasi hingga operasi selesai. Saat memeriksa Budi, polisi membawa data lalu lintas teleponnya dengan Pollycarpus, sehingga ia tak bisa berkutik.

    Budi mengeluh karena diteror dan diancam dibunuh jika membuka operasi itu. Keluarganya juga diteror. Kepada penyidik ia mengatakan tak menghadiri pernikahan anaknya karena cemas dibunuh jika menginjakkan kaki di wilayah Indonesia.

    Selengkapnya, baca majalah Tempo.

    BHD

    Baca berita lainnya:
    KPK Bantah Boediono Sudah Tersangka Kasus Century
    Gubernur FPI Sewot Soal Tunggakan Iuran Warga

    Jokowi Untung Golkar Tolak Perpu Pilkada, Kok Bisa?

    5 Tanda Partai Politik Bakal Bubar

    Tolak Perpu Pilkada, Kubu Prabowo Sebut SBY Pembohong


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK, Tudingan Kubu Prabowo - Sandiaga soal Pilpres 2019

    Pada 16 Juni 2019, Tim kuasa hukum Prabowo - Sandiaga menyatakan mempersiapkan dokumen dan alat bukti soal sengketa Pilpres 2019 ke Sidang MK.