Kisah Korban Miras Oplosan, dari Harga hingga Rasa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Satpol PP memeriksa sebuah warung jamu saat merazia  minuman  keras (miras) di Tangerang, Banten (13/7).  Razia tersebut dilakukan untuk menekan peredaran miras pada bulan suci Ramadan. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

    Petugas Satpol PP memeriksa sebuah warung jamu saat merazia minuman keras (miras) di Tangerang, Banten (13/7). Razia tersebut dilakukan untuk menekan peredaran miras pada bulan suci Ramadan. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

    TEMPO.COSumedang - Rangga, 20 tahun, korban minuman keras oplosan, terkulai lemas di tempat tidurnya di Instalasi Gawat Darurat RSUD Sumedang, Kamis, 3 Desember 2014. Di tangannya menempel infus yang sedari sore terpasang di lengan kanannya. 

    Rangga mengangkat badannya ketika sang ibu hendak menyuapi satu sendok obat cair berwarna merah muda. Di sana ia tidak sendirian. Di sekelilingnya banyak pasien yang mengalami derita yang sama. Rangga terpaksa masuk rumah sakit ketika merasakan gejala keracunan setelah meminum minuman keras oplosan pada akhir pekan lalu. (Baca juga: Miras Oplosan Renggut Nyawa 10 Warga Garut)

    “Teman saya juga ada yang meninggal,” ujar Rangga kepada Tempo, Kamis, 4 Desember 2014.

    Pada Sabtu akhir pekan kemarin, Rangga dan teman-temannya mengadakan pesta minum-minum di dekat rumahnya di Desa Ciguling, Kecamatan Sumedang Selatan. Ia membeli minuman bermerek Gingseng. Ia mengakui merek tersebut merupakan minuman kesukaannya. Pasalnya, harga minuman tersebut terjangkau untuk sakunya yang sedang tunakarya. “Ya, kalau minuman lain, mah, mahal. Gingseng cuma Rp 10 ribuan,” ujarnya.

    Namun, pada Sabtu itu, Rangga dan teman-temanya merasakan ada yang berbeda dengan minuman tersebut. Menurut dia, minuman itu terasa lebih pahit dari biasanya. Padahal ia sudah berlangganan minuman tersebut sejak tiga bulan lalu. Rangga pun merasakan efek yang berbeda. “Pusingnya juga beda,” ujarnya. Namun Rangga tak ambil pusing dengan rasa tersebut. Ia tetap melanjutkan pesta bersama teman-temannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.