5 Celotehan Fadli Zon yang Menuai Hujatan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Celotehan politikus Partai Gerindra, Fadli Zon, kerap mengundang kontroversi. Kritikan terbarunya soal kebijakan Presiden Joko Widodo yang menaikkan harga bahan bakar minyak menuai hujatan di jagat maya, antara lain di jejaring media sosial Facebook.

    Akun Tempo Media--ranah bagi kelompok media di bawah kendali Tempo untuk berbagi berita di Facebook--yang memposting berita "Fadli Zon: Lulusan SD Juga Bisa Naikkan Harga BBM" sejak 29 November 2014 kebanjiran komentar yang tak puas dengan pernyataan Wakil Ketua DPR itu. Hingga Ahad, 30 November 2014, berita ini sudah dikomentari 1.340 akun.

    Akun bernama Wenny Lestari, misalnya, menyindir Fadli dengan komentar: "Lulusan SMP jg terbukti bisa memimpin mentri kelautan. Tak masalah lulusan apa, yg utama adl kemauan dan nyali untk memperbaiki negara ini." Yang dimaksud pejabat lulusan SMP itu merujuk pada Menteri Susi Pudjiastuti.

    Selain Wenny, akun Zulmendra SE Ak CA mengatakan, "Pak Jokowi sudah menjelaskan arahan untuk pengalihan subsidi masa anggota parlemen yang di anggap dewanya parlemen tetapi tidak ngerti2 apa yang rencanakan pak jokowi. Jika pengungkapan malaysia bukan negara minyak, Indonesia sudah keluar dari OPEC di era SBY tidak ada bedanya toh?"

    Pernyataan Fadli yang mengundang kritikan netizen, sebutan bagi pengguna jaringan media sosial, bukan hanya sekali ini saja. Sepanjang tahun ini, setidaknya Fadli sudah melontarkan lima celotehan yang kebanyak mendapat kritikan balik dari publik, terutama netizen. Berikut ini daftarnya:

    1. Lulusan SD Bisa Naikkan harga Minyak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.