Harga BBM Naik, Ulil Tanyakan Sikap Menteri Andrinof  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua DPP Partai Demokrat Ulil Abshar Abdalla. ANTARA/Andika Wahyu

    Ketua DPP Partai Demokrat Ulil Abshar Abdalla. ANTARA/Andika Wahyu

    TEMPO.CO, Jakarta - Tokoh Islam liberal, Ulil Abshar Abdalla, mengaku jengkel dengan pendukung Joko Widodo yang pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menentang kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi. Padahal ada "hukum fiskal" yang berbunyi, "Siapa pun yang memerintah, akan dipaksa menaikkan harga BBM."

    "Termasuk yang gigih menentang kenaikan harga BBM dulu adalah Ketua Bappenas Andrinof Chaniago," kata Ulil saat dihubungi, Selasa, 18 November 2014.

    Menurut Ulil, pada 2005, Andrinof sangat menentang kenaikan harga BBM. Namun, saat berada di pemerintahan, Andrinof justru turut dalam kebijakan Jokowi menaikkan harga BBM.

    Melalui akun Twitter-nya, Andrinof menjawab melalui akun @andrinof_a_ch bahwa saat itu yang dia tentang adalah perhitungan sepihak yang diiklankan, "Serta kenaikan harga BBM yang terlalu besar." (Baca: Ekonom UGM: Alasan Kenaikan Harga BBM Mengada-ada)

    Andrinof juga mengatakan, ihwal kebijakan BBM, jangan sampai mengambil pilihan ekstrem dengan motif politik.

    Pernyataan Andrinof pada 27 Februari 2005 di Taman Ismail Marzuki bahwa harga BBM dianggap tidak rasional tidaklah salah.

    Sebab, Andrinof menolak argumen, dengan menaikkan harga BBM sebesar 30 persen lalu meningkatkan subsidi kepada kelompok miskin, jumlah mereka turun dari 16,25 persen menjadi 13,87 persen.

    "Ini sama dengan menyederhanakan persoalan sosial, politik, dan ekonomi Indonesia," ujar Andrinof. (Baca: Harga BBM Naik, Tarif Angkutan Yogya Naik Hari Ini)

    Andrinof saat itu mengimbau pemerintah membuat kebijakan publik yang bertolak dari perhitungan harga BBM yang disusun secara komprehensif. Yakni, tutur Andrinof, kebijakan yang memperhitungkan detail sebab-sebab selisih antara harga BBM di Indonesia dan di luar negeri.

    Pemerintah, kata Andrinof, juga harus memperhitungkan berapa ukuran kenaikan BBM yang tidak akan menimbulkan masalah baru dalam masyarakat dengan pemetaan golongan masyarakat secara tepat.

    "Dan memperhitungkan biaya yang akan timbul atas gejolak sosial yang muncul," tuturnya. (Baca: Harga BBM Naik, Tarif Baru Blue Bird Tunggu Organda)

    Sebelumnya, surat kabar harian Kompas pada 26 Februari 2005 memuat iklan Freedom Institue mendukung Susilo Bambang Yudhoyono menaikkan harga BBM.

    Turut tokoh-tokoh yang menyatakan dukungan saat itu adalah Ulil, Raden Pardede, Rahman Tolleng, Franz Magnis-Suseno, Goenawan Mohamad, dan lain-lain.

    MUHAMMAD MUHYIDDIN


    Berita penting lain
    TNI AU: Keterlambatan di Halim Risiko Biasa
    Kasus Kedua Pasien Ebola Sekarat di Amerika
    Kasus Hutan Riau, KPK Panggil Romahurmuziy
    8 Ribu Keluarga Miskin Banyuwangi Dapat Kompensasi
    Ahok Protes Gelas Starbucks Dibuang ke Kali


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.