Wartawan 'Antiamplop' Itu Pergi tanpa Pamit  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rekan kerja Erick Priberkah Hardi, datang melayat di rumah duka di Bandung, 9 November 2014. Erick mengalami trauma parah di kepala dan koma hingga wafat pada Sabtu malam.  TEMPO/Prima Mulia

    Rekan kerja Erick Priberkah Hardi, datang melayat di rumah duka di Bandung, 9 November 2014. Erick mengalami trauma parah di kepala dan koma hingga wafat pada Sabtu malam. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Wartawan Tempo, Erick Priberkah Hardi, telah kembali ke pangkuan Sang Khalik, Sabtu (8 November 2014) malam di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Lelaki 42 tahun itu mengembuskan napas terakhir setelah koma selama enam jam akibat tertabrak sepeda motor di Jalan Setiabudi, Bandung.

    "Hari ini akan dimakamkan di kampung halamanya, Sumedang," kata Fery Firmansyah, rekan kerja Erick di Tempo, 9 November 2014.

    Fery mengatakan, dia mengenal almarhum saat mereka sama-sama menjadi wartawan di Bandung, namun belum bekerja untuk Tempo. Pada 2005, Ferry ke Jakarta karena diterima Tempo. Erick yang memilih tetap di Bandung belakangan menjadi koresponden Tempo, sejak 2009.

    Menurut Fery, almarhum adalah sosok yang kalem dan cenderung pendiam. "Almarhum sangat idealis," kata Fery. Terutama dalam urusan "amplop".

    Bagi Erick, wartawan adalah karyawan yang dibayar oleh perusahaan penerbitan. "Wartawan bukan orang bayaran. Karena itu kita harus malu kalau terima amplop," kata Ferry menirukan ucapan almarhum.  

    Fery bercerita pernah satu kali ada seorang manajer klub sepak bola menyodorkan amplop berisi uang kepada Erick. Saat itu raut wajah almarhum langsung berubah. Dia merasa harga dirinya dilecehkan. "Almarhum sangat marah," kata Fery.

    Almarhum memang suka dengan berita olahraga--terutama sepak bola--dan kriminalitas. Karena itulah berita-beritanya selama ini tidak jauh dari liputan olahraga dan kriminalitas.

    Pada Sabtu lalu, dia sangat antusias meliput kedatangan Persib Bandung yang baru kembali dari Palembang. Persib berhasil menjadi juara setelah menundukkan Persipura Jayapura di partai final ISL 2014. Ribuan pendukung Persib turun ke jalan untuk merayakan kemenangan itu.

    Dengan sepeda motornya, Erick berputar-putar di Kota Bandung untuk mereportase perayaan kemenangan itu. Selepas azan subuh, almarhum berniat untuk pulang. Namun ketika hendak menuju Cihampelas, sepeda motornya dihantam sepeda motor lain. Almarhum terpental dan mengalami cedera parah di kepala.

    Setelah itu, wartawan Tempo yang idealis itu tak pernah sadarkan diri. Pada Sabtu pukul 22.05 WIB, almarhum mengembuskan napas terakhir tanpa sempat berpamitan kepada keluarga dan teman-temannya.  

    SUSENO

    Berita lain:
    Nurul Arifin: Muntah Lihat Menteri Jokowi Blusukan
    Dukung Menteri Blusukan, Tweeps Bully Nurul Arifin
    PPP Pecat Lulung, Kubu Prabowo Bersatu Jegal Ahok


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.