Himpunan Nelayan Desak Jokowi Percepat Tol Laut

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi nelayan. TEMPO/Lazyra Amadea Hidaya

    Ilustrasi nelayan. TEMPO/Lazyra Amadea Hidaya

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Rencana Presiden Joko Widodo memunculkan pos Kementerian Koordinator Kemaritiman dalam kabinetnya disambut antusias oleh Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Kelompok nelayan berharap Kementerian Maritim yang salah satunya bertanggung jawab pada pembangunan infrastruktur, terutama proyek tol laut, segera dapat bekerja dan mengubah nasib warga pesisir.

    “Kami di pesisir berharap sekali proyek tol laut segera terealisasi untuk menyelamatkan panen hasil laut yang sering mubazir,” kata Ketua HNSI Gunungkidul Rujimanto kepada Tempo, Kamis, 23 Oktober 2014. (Baca: Tol Laut Terganjal Minimnya Industri di Timur)

    Menurut Rujimanto, tol laut yang konsepnya akan memperbanyak titik labuh dan bongkar-muat barang itu sangat membantu memaksimalkan pesisir selatan yang kaya potensi, namun belum didukung fasilitas yang memadai. Walhasil, masyarakat nelayan terus dalam kondisi miskin. “Dari proyek itu, yang paling kami harapkan adalah tidak ada monopoli atas pembelian hasil panen laut,” ujar Rujimanto.

    Salah satu masalah yang selama ini membuat nelayan tak berdaya adalah mereka bergantung hanya pada satu-dua pengepul. Akibatnya, seberapa pun besarnya tangkapan nelayan tak akan bernilai tinggi jika pengepul sudah menentukan harga sendiri.

    “Ikan beda dengan rokok. Kami tak bisa tentukan harga karena pembelinya itu-itu saja,” kata Rujimanto. Akhirnya, pilihan untuk menjual ikan meski harganya rendah ditempuh nelayan. Itung-itung, daripada panen laut rusak atau membusuk dimakan waktu lantaran menunggu pembeli yang lain. (Baca: 'Tol Laut' Butuh Perusahaan Induk Pelabuhan)

    Adanya tol laut itu, nelayan berharap lebih banyak kapal lalu-lalang dengan banyak titik pemberhentian. Dengan begitu, hasil panen laut lebih banyak yang melirik sehingga terjadi persaingan harga secara sehat.

    Rujimanto mencontohkan, sepanjang Oktober ini, nelayan Gunungkidul sebenarnya berpesta dengan melimpahnya tangkapan ikan teri. Namun, dari tangkapan yang dihasilkan, ada sekitar satu ton ikan teri yang rusak akibat terlalu lama disimpan dan tak ada pembeli. “Pengepul ternyata sudah membeli dari pantai lain, sedangkan tangkapan setiap hari ada, tapi tak ada yang melirik,” katanya.

    PRIBADI WICAKSONO

    Terpopuler
    3 Alasan Jokowi Batal Umumkan Kabinet

    Rilis Menteri Batal, Mega Gelar Rapat Rahasia

    Rahasia Dokumen di Tangan Jusuf Kalla

    Beda Jokowi dan JK Soal Pengumuman Kabinet


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.