Seusai Geger MPR, Mega-SBY Kunci Stabilitas Politik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Presiden 2009-2014, Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarno Putri bersalaman sebelum pengundian nomor urut Pilpres, di  Komisi Pemilihan Umum, Jakarta, (30/5). Foto : TEMPO/Imam Sukamto

    Calon Presiden 2009-2014, Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarno Putri bersalaman sebelum pengundian nomor urut Pilpres, di Komisi Pemilihan Umum, Jakarta, (30/5). Foto : TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Konstelasi politik berubah menjelang pemilihan pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat yang berlangsung alot, Selasa malam hingga Rabu dinihari, 7-8 Oktober 2014. Gara-gara tidak masuk komposisi calon pimpinan MPR yang diusung koalisi Prabowo Subianto, Fraksi Partai Persatuan Pembangunan akhirnya merapat ke koalisi presiden terpilih, Joko Widodo. (Baca: Tiga Taktik Koalisi Prabowo Rebut Pimpinan MPR)

    “Proses yang telah kami jalani (di koalisi Prabowo) bertepuk sebelah tangan,” kata Muhammad Romahurmuziy, Sekretaris Jenderal PPP, di gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Sebelumnya, koalisi Prabowo menjanjikan kursi wakil ketua MPR kepada PPP karena partai tersebut tidak mendapatkan jatah kursi wakil ketua DPR saat pemilihan pimpinan pada 3 Oktober 2014. (Baca: Koalisi Prabowo Siap Ajukan Veto untuk 100 Posisi)

    Sikap Fraksi PPP tersebut menambah langsung kekuatan kubu Jokowi di MPR. Berdasarkan jumlah kursi, setelah memperoleh dukungan dari Dewan Perwakilan Daerah, koalisi Jokowi kini menguasai 377 kursi di MPR. Sedangkan koalisi Prabowo menguasai 313 kursi. (Baca: Hashim: Koalisi Prabowo Akan Jadi Oposisi Aktif)

    Jika koalisi ini berlanjut di DPR, koalisi Jokowi tinggal menggaet dukungan Demokrat, yang memiliki 61 kursi, sehingga menjadi 308 kursi. Jumlah ini mengungguli koalisi Prabowo, yang hanya menghimpun 252 kursi. Romahurmuziy memberi sinyal bahwa dukungan partainya juga bakal berlanjut di DPR. “Politik itu dinamis,” katanya.

    Untuk menarik Demokrat, menurut Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri membuka pintu untuk bertemu Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Komitmen Mega itu diungkapkan saat memimpin pertemuan partai koalisi penyokong presiden terpilih Jokowi di kediamannya di Teuku Umar, Jakarta, Ahad lalu. (Baca juga yang lain: Heboh DPR Jegal Jokowi, Fahri: Jangan Paranoid!)

    “Mega minta waktu pertemuan dengan SBY diatur lagi,” kata Surya Paloh di kantor partainya, Selasa. Surya juga hadir saat pertemuan di rumah Mega itu. Menurut Surya, Mega juga mengutus wakil presiden terpilih Jusuf Kalla untuk menemui Yudhoyono. (Baca: Investor Tunggu Sikap Politik Megawati


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.