Di Beijing, Surya Paloh Dengungkan Politik Poros  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri bersama Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh (kiri), saat deklarasi Kerjasama PDIP, Partai Nasdem dan PKB, di DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan (14/5). TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri bersama Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh (kiri), saat deklarasi Kerjasama PDIP, Partai Nasdem dan PKB, di DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan (14/5). TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Beijing - Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh mengatakan kekuatan kawasan Asia harus dibangun lagi oleh Indonesia dan negara-negara yang tengah berkembang pesat, termasuk Cina. “Mungkin ini saatnya diterapkannya kembali politik poros ala Sukarno,” katanya saat menerima penghargaan Honorary Professorship di Beijing Foreign Studies University di Beijing, Rabu, 10 September 2014.

    Menurut Surya, kondisi kawasan pada saat ini sama dengan waktu Presiden RI pertama, Sukarno, menerapkan politik poros Jakarta-Peking pada era 1960-an. Namun Surya Paloh mengatakan politik poros yang ia maksud kali ini berkaitan dengan masalah ekonomi. “Cina sebagai negara super power baru harus diajak berkomunikasi karena mereka punya peran strategsi di ujung abad ini,” ujarnya setelah menerima penghargaan.

    Surya Paloh mengatakan kebijakan luar negeri Indonesia sebagai negara nonblok harus diperkuat oleh hubungan dengan negara-negara kuat di kawasan Asia. “Ini untuk menjaga national interest kita dengan diplomasi yang cair,” ujarnya kepada Tempo.

    Bos Media Group itu mengingatkan bahwa, dalam poros baru, kelak Indonesia bisa mengajak Cina melakukan transformasi teknologi. Dengan transformasi ini, dia yakin Indonesia juga bisa menjadi kekuatan utama di Asia. “Modal sumber daya manusia kita banyak. Sekarang bagaimana memanfaatkan hal itu dengan baik,” ujarnya.

    Surya berharap Presiden terpilih Joko Widodo mempertimbangkan politik poros yang ia ungkapkan ini. “Indonesia dulu punya jalan tol pertama pada tahun 1977 saat Beijing belum punya. Kini panjang ruas tol kita kalah dengan Cina,” ujarnya.

    Surya Paloh menerima penghargaan Honorary Professorship dari Beijing Foreign Studies University pada Rabu, 10 September 2014. Dia lewat lembaga yang dipimpinnya, Media Group, dianggap punya usaha yang kuat untuk merekatkan hubungan Indonesia-Cina. Salah satunya lewat program Metro Xinwen di jaringan televisi berita miliknya, Metro TV.

    JULI HANTORO 

    Berita Terpopuler:
    Perludem: SBY Bertanggungjawab Soal RUU Pilkada
    Suryadharma Dikudeta dari Ketua Umum PPP 
    LSI: 81,53 Persen Massa Prabowo Setuju Pilkada Langsung
    Soal Mobil Dinas Baru untuk SBY, Ini Kata Sudi  

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.