Surat Menlu AS Mengenang 10 Tahun Kematian Munir  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penggiat HAM mengenakan topeng Munir dalam aksi Kamisan untuk mengennag 10 tahun tewasnya aktivis HAM, Munir di depan Istana Negara Jakarta, 4 September 2014. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Penggiat HAM mengenakan topeng Munir dalam aksi Kamisan untuk mengennag 10 tahun tewasnya aktivis HAM, Munir di depan Istana Negara Jakarta, 4 September 2014. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Washington, DC - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry turut memperingati sepuluh tahun tewasnya Munir Said Thalib, aktivis hak asasi manusia (HAM), akibat diracun saat dalam penerbangan ke Belanda. Dalam surat elektronik yang diterima Tempo, Kerry mengenang Munir.

    Di awal surat, Kerry menyapa rakyat Indonesia yang menyayangi Munir. "Ia dikenal dengan nama yang sederhana: Munir. Munir mengabdikan hidupnya untuk membuat Tanah Airnya lebih demokratis, lebih bebas, dan lebih manusiawi atau bermartabat. Sepuluh tahun lalu, hari ini, seseorang telah membunuhnya karena takut bahwa dia, sang pembela HAM, mungkin akan berhasil meraih cita-cita besarnya," kata Kerry.(Baca:Istri Munir: Jokowi Lakukan Kesalahan Pertama)

    "Sayang, sampai hari ini, keadilan belum juga menemukan jalan bagi Munir. Penyelidikan menyeluruh terhadap para pihak yang diduga terlibat dalam kasus pembunuhannya masih belum jelas. Pada 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan penuntasan kasus Munir akan menjadi sebuah ujian bagi demokrasi Indonesia. Suatu pernyataan yang masih berlaku sampai saat ini. Kami mendukung semua upaya, dari segala pihak, untuk menyeret siapa pun pihak yang terlibat, termasuk sang pemberi perintah pembunuhan Munir."

    "Munir adalah suara hati nurani dan kegamblangan." Dia, Kerry melanjutkan, telah menginspirasi para aktivis dari generasi ke generasi, kaum cendekia, dan pelayan rakyat yang saat ini mentransformasi Indonesia. "Begitu banyak orang, termasuk istri yang ia tinggalkan, Suciwati, mengenang Munir dengan cara terus meneruskan apa yang ia perjuangkan." (Baca:Menolak Lupa, PPI Canberra Ingatkan Kasus Munir)

    "Hari ini, izinkan kami, rakyat Amerika Serikat, bergabung dengan masyarakat Indonesia untuk mengenang peninggalan atau pusaka Munir Said Thalib. Kami menyerukan perlindungan bagi semua yang mengabdikan diri dan berdedikasi untuk perdamaian, demokrasi, dan HAM di seluruh penjuru dunia."

    Sepuluh tahun lalu, pada 7 September 2004, Munir tewas diracun di dalam pesawat Garuda Indonesia ketika melakukan perjalanan Jakarta-Amsterdam. Bagi sebagian besar aktivis HAM di Indonesia, vonis majelis hakim di pengadilan kepada Pollycarpus Budihari Priyanto yang dianggap sebagai pelaku pembunuhan bukanlah akhir kasus Munir.

    RIDHO JUN PRASETYO

    Baca juga:
    Tiga Sebab Ini Bikin SBY Kesal pada Tim Transisi
    Meninggal, Istri Tokoh PKI Njoto Dimakamkan di Solo 
    PDIP: Ada Mafia Migas Besar dan Recehan 
    Pria Ini Rela Membayar Rp 900 Juta untuk Ciuman 
    Hujatan di Twitter Ini Bikin Ridwan Kamil Geram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cerita Saksi Soal Kebararan Pabrik Korek Api di Desa Sambirejo

    Inilah cerita saksi tentang kebakaran pabrik korek api gas di Desa Sambirejo, Langkat, Sumatera Utara memakan korban sampai 30 jiwa.