Apa Tanggapan Sultan Yogya Soal Florence?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sri Sultan HB X. ANTARA/Regina Safri

    Sri Sultan HB X. ANTARA/Regina Safri

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X, mengatakan penahanan Florence Sihombing terjadi karena laporan lembaga swadaya masyarakat ke kepolisian. "Kalau (sama) saya, tak ada masalah," ujar Sultan setelah menghadiri pelantikan anggota DIY terpilih di gedung DPRD DIY, Senin, 1 September 2014.

    Nama Florence melambung setelah kicauannya di media sosial tersebar luas di jagad maya. Melalui akun Path miliknya, mahasiswa S-2 Universitas Gadjah Mada itu menulis kicauan bernada hinaan pada warga Yogyakarta. Meski telah meminta maaf, LSM Jatisura dan sejumlah komunitas di Yogyakarta tetap mengadukannya ke Polda DIY.

    Menurut Sultan, polisi sekadar melaksanakan tugas saja. Kalau laporan itu tak ditindaklanjuti, tutur dia, polisi bisa dianggap mendiamkan perkara. "Kalau cepat, katanya kok cepat," katanya di depan para wartawan. (Baca: Akhirnya, Florence 'Ratu SPBU' Bebas dari Tahanan)

    Para wartawan berkali-kali menanyakan pada Sultan, apakah akan memaafkan Florence yang telah berkicau menghina warga Yogya. Namun Sultan sama sekali tak menjawab. Sultan tetap mengatakan tak pernah ada masalah dengan Florence. "Urusan dengan aku apa. Kalau saya, tak ada masalah," ujar Sultan. (Baca: Hina Warga Yogja, Florence Mengaku Menyesal)

    Namun ia berharap ada proses mediasi untuk menyelesaikan masalah itu. Polisi, kata dia, sebaiknya berperan dalam memfasilitasi antara Florence dan pelapornya. "Ada win-win solution," tuturnya. Ia pun mengingatkan agar Florence tak bersikap menang sendiri, seperti saat menyerobot antrean kendaraan bermotor di SPBU Lempuyangan.

    ANANG ZAKARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.