Tim Hukum Jokowi Percaya Diri Soal Saksi Prabowo  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim Pembela Penyidik KPK Taufik Basari (kiri) bersama politisi Partai Demokrat Ruhut Sitompul. ANTARA/Dhoni Setiawan

    Tim Pembela Penyidik KPK Taufik Basari (kiri) bersama politisi Partai Demokrat Ruhut Sitompul. ANTARA/Dhoni Setiawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota tim kuasa hukum Joko Widodo-Jusuf Kalla, Taufik Basari, mengaku tidak merasa terancam dengan keterangan yang disampaikan para saksi dari kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa di persidangan Mahkamah Konstitusi kemarin. Menurut dia, keterangan yang disampaikan para saksi itu tidak mencerminkan adanya pelanggaran secara terstruktur, sistematis dan masif.

    "Karena itu dilakukan secara dadakan dan sporadis," kata Taufik, saat dihubungi, Selasa, 12 Agustus 2014. "Dan yang disampaikan oleh para saksi hanya itu saja. Jadi, buat kami bukanlah sebuah ancaman." (Baca: Jokowi Bocorkan 4 Pendongkrak Suaranya)

    Taufik mengatakan adanya anggota KPPS yang mencoblos surat suara calon nomor urut 2 di wilayah Nias itu tidak terjadi lagi di daerah lain. Menurut dia, satu kejadian itu bukanlah menjadi acuan bagi daerah lain mengenai adanya kecurangan yang dilakukan kubu Jokowi-JK.

    "Kami jamin tidak ada daerah lain yang seperti di Nias," kata dia. "Dan saksi-saksi itu juga tidak bisa membuktikan lebih lanjut. Dia hanya menyampaikan mengenai adanya pencoblosan saja."

    Dalam sidang lanjutan sengketa PHPU Pilpres, saksi dari kubu Prabowo, Santoniha Duaha, mengatakan setelah selesai dilakukan pencoblosan di TPS 3 Desa Bawelahusa, tujuh petugas KPPS, termasuk dirinya, mencoblos seluruh sisa surat suara. Dengan demikian, jumlah suara sah melebihi jumlah pengguna hak pilih. "Pengguna hak pilih 42 orang, suara sah 100 orang," ujar Santoniha. Adapun pencoblosan massal dilakukan untuk pasangan calon nomor urut dua. (Baca: Wiranto Sebut Kriteria Calon Menteri Jokowi-Kalla)

    Adapun jumlah daftar pemilih tetap di TPS 3 tersebut berjumlah 99 orang, sedangkan jumlah suara sah 100 orang. Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut satu mendapat 32 suar dan nomor dua mendapat 68 suara.

    Menurut Santoniha, saat pencoblosan massal tersebut, panitia pengawas pemilu dan saksi pasangan calon nomor satu tak ada di tempat dan tak mengetahui insiden ini. Atas kejadian tersebut, Santo mengatakan Bawaslu tak merekomendasikan pemungutan suara ulang.

    REZA ADITYA

    Berita Terpopuler:

    Rini Soemarno Bicara soal Hubungan dengan Megawati
    Penyebab Hilangnya Suara Jokowi-Kalla Belum Jelas
    Lima Pemain MU Ditendang, Kagawa Aman
    Benarkah Megawati Ikut Memilih Tim Transisi?
    5 Hal Kontroversial tentang Syahrini
    SBY, Orang Paling Tepat Bantu Transisi Jokowi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.