Senin, 22 Oktober 2018

MUI Halalkan Sapi Nonhalal dari Australia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Surat pernyataan JBS, bahwa pemotongan sapi mereka di Rockhampton, Australia, tidak halal.

    Surat pernyataan JBS, bahwa pemotongan sapi mereka di Rockhampton, Australia, tidak halal.

    TEMPO.CO, Jakarta: Auditor Lembaga Pengkajian Pangan, Obat, dan Makanan Majelis Ulama Indonesia menyarankan agar kulit sapi yang diproses tak halal di pejagalan Rockhampton, Australia, mendapat sertifikat halal. Hal itu terungkap dari dokumen audit yang dibuat Hendra Utama dalam auditnya pada Mei 2012. "Indonesia akan mendorong Australian Halal Food Services (AHFS) memberikan label halal kepada semua pejagalan JBS," tulis Hendra seperti dimuat majalah Tempo edisi pekan ini.

    Laporan Tempo "Permainan Lain Haram-Halal" merupakan lanjutan dari edisi Astaga Label Halal yang terbit pada Februari lalu. Ketidakhalalan proses pengirisan kulit wajah sapi di JBS dikonfirmasi Michael Johnston, Manajer Keamanan Makanan JBS Australia Pty Ltd, ketika menyurati Mohammad Lotfi, Presiden AHFS. Menurut Johnston, seluruh pejagalan milik perusahaannya tak ada yang halal.

    Selain berkunjung ke JBS, Hendra juga menyambangi pejagalan milik Teys di Biloela 399. Sama seperti JBS, untuk pejagalan Teys, ia juga menyatakan rumah pemotongan hewan itu halal. Duncan Downie, Manajer Operasi Teys, dalam surat terbuka menyatakan sebaliknya. "Pernyataan tersebut membatalkan persetujuan atas audit sebelumnya," kata dia kepada Tempo. (Baca: Label Halal, Ketua MUI Bantah Kenal Imran Musa)

    Kulit wajah sapi dari kedua pejagalan tersebut dipasok kepada Gelita Australia, yang memproduksi gelatin. Gelatin adalah turunan protein dari serat kolagen yang ada pada kulit, tulang, dan tulang rawan. Bahan baku pembuatan kapsul, pelapis vitamin, tablet, permen, krim, karamel, selai, yoghurt, susu olahan, dan sosis. Untuk proses asam biasanya dipakai gelatin kulit dan tulang babi, sementara untuk basa gelatin yang dipakai berasal dari tulang dan jangat sapi. Larut dalam air dan membentuk jeli pada suhu 48,9 derajat Celsius. (Baca: DPR Sepakat Sertifikat Halal Dikelola Pemerintah)

    Menurut Josh Hamelaar, Manajer Penjualan Gelita, gelatin yang diproduksi perusahaannya diekspor ke Indonesia. Setiap tahun kebutuhan 3.000 ton gelatin dalam negeri semuanya dipenuhi dari impor. Australia pemasok paling besar.

    Gelatin Gelita bisa masuk ke Indonesia karena sudah mendapat label halal dari MUI. Sertifikatnya terbit pada 7 November 2012. Direktur LPPOM Lukmanul Hakim menolak menjelaskan sertifikat yang ditekennya untuk Gelita. Dua kali ditemui ia menampik permintaan wawancara. "Sudah cukup apa yang ditulis Tempo," katanya. (Baca: Kasus Label Halal, Australia Dituding Tutup Mata)

    Hendra Utama juga menolak menjelaskan hasil auditnya. Ditemui di kantornya, LPPOM di Bogor, ia mengatakan tak punya kapasitas berbicara soal label halal dan auditnya ke Australia dua tahun lalu. (Baca: Australia Sodorkan Bukti Biaya Perjalanan MUI)

    ARIHTA SURBAKTI | GING GINANJAR

    Terpopuler
    ISIS Hancurkan Makam Nabi Yunus, Ini Alasannya
    Sekjen PBB Frustasi Hadapi Israel-Hamas
    Pendukung ISIS Menyebar di Negara ASEAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.