Kabinet Jokowi Beri Ruang Luas Bagi Perempuan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasangan presiden terpilih Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan pidato kemenangan di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Selasa 22 Juli 2014. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Pasangan presiden terpilih Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan pidato kemenangan di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Selasa 22 Juli 2014. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota pemenangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, Eva Kusuma Sundari, mengatakan Jokowi sangat terbuka terhadap usulan menteri dari kaum perempuan dalam kabinet baru nanti. “Kalau prosesnya, kami sangat partisipatoris,” kata Eva saat dihubungi Tempo, Jumat, 25 Juli 2014.

    Pemerintahan Jokowi, menurut Eva, tak mengharuskan perempuan mengisi pos-pos tradisional seperti Menteri Pemberdayaan Perempuan atau Menteri Kesehatan, melainkan bisa di posisi mana pun, bahkan Menteri Pertahanan. “Asalkan kapasitasnya oke, serta masuk dalam lima kriterianya Jokowi,” ujarnya.

    Namun Eva menilai selama ini kaum perempuan cenderung tak aktif dalam mengajukan nama-nama untuk mengisi posisi menteri. Jokowi, menurut Eva, sebenarnya sangat mempersilakan untuk diajukannya kaum perempuan dalam kabinetnya nanti. (Baca juga: Penyusunan Kabinet ala Jokowi Dipuji)

    Dengan sistem susunan kabinet secara terbuka yang dilakukan Jokowi, kata Eva, penting bagi perempuan untuk serius mendorong kaum mereka sendiri dalam mengisi pos-pos kementerian strategis. “Mereka protes, tapi enggak ngajuin nama,” ujarnya. (Baca juga: Menteri Pilihan Rakyat Dirilis Agustus Ini)

    Pengamat Pertahanan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jaleswari Pramodhawardani, menilai visi-misi Jokowi-JK memberikan ruang bagi kaum perempuan dalam berpolitik. “Artinya bisa dibaca dalam politik ini, perempuan bisa menduduki peluang yang sama di kementerian,” tuturnya yang kebetulan berasal dari kaum perempuan.

    Menurut dia, untuk posisi Menteri Pertahanan masih ada anggapan di masyarakat bahwa posisi terebut diisi oleh kaum laki-laki. “Biasanya jadi domain laki-laki,” ujarnya ketika dihubungi Tempo, Jumat, 25 Juli 2014.

    Jaleswari menilai hal sebaliknya juga terjadi pada kementerian-kementerian yang terkait dengan urusan sosial, kesehatan, atau perempuan. “Hal-hal sosial itu cenderung perempuan. Mindset ini belum sepenuhnya hilang." 

    Menurut Jaleswari, dalam penentuan susunan kabinet, selain persoalan gender, penting pula untuk melihat apakah mereka yang terpilih mempunyai kemampuan berpolitik yang baik. “Bagaimana leadership-nya,” katanya.

    Komisi Pemilihan Umum telah menetapkan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden terpilih pada 22 Juli lalu. Sebelun pelantikan yang rencananya akan dihelat pada 20 Oktober mendatang, Jokowi-JK memberi kesempatan kepada rakyat untuk memberikan usulan nama-nama calon menteri dalam kabinetnya nanti.

    Dalam akun Facebook resmi kubu Jokowi-JK, publik diminta berpartisipasi untuk memberi pandangan mengenai siapa yang cocok menjadi pembantu presiden dan wakil presiden pada periode mendatang, yaitu melalui kabinet alternatif usulan rakyat (KAUR). Jokowi pun sudah mengonfirmasi langkah ini dilakukan oleh timnya. 

    PRIO HARI KRISTANTO

    Baca juga:
    Jokowi Diingatkan Waspadai Manuver Politik DPRD  
    Akhir Jabatan Jokowi, PNS Berebut Foto Bareng  
    PKS Mengaku Setia Dampingi Prabowo
    Kriteria Menteri Jokowi-Kalla  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ashraf Sinclair dan Selebritas yang Kena Serangan Jantung

    Selain Ashraf Sinclair, ada beberapa tokoh dari dunia hiburan dan bersinggungan dengan olah raga juga meninggal dunia karena serangan jantung.