Petisi Netizen Minta PKS Dikucilkan di Parlemen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta (kanan) didamping Wakil Sekjen PKS Fahri Hamzah (Kiri), memberikan keterengan mengenai pertemuan tertutup Forum Koalisi Politik Islam di Cikini, Jakarta (17/4). TEMPO/Imam Sukamto

    Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta (kanan) didamping Wakil Sekjen PKS Fahri Hamzah (Kiri), memberikan keterengan mengenai pertemuan tertutup Forum Koalisi Politik Islam di Cikini, Jakarta (17/4). TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Agus Sutondo menggagas petisi menolak Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masuk ke dalam pemerintahaan pasangan Jokowi-JK yang dilakukan lewat media sosial.

    Dalam petisinya disebutkan bahwa PKS merupakan partai yang perlu dicurigai sebagai musuh dalam selimut. "Lebih baik mereka oposisi dan dikucilkan sendirian di parlemen," tulisnya dalam petisi yang mulai beredar sekitar tiga hari lalu, Kamis, 24 Juli 2014.

    Kata dia, rencana Jokowi yang akan melakukan silaturahmi dengan partai politik yang berseberangan sangatlah baik dan menunjukkan sikap kenegarawan. Sedangkan berhubungan dengan PKS merupakan hal yang sangat tidak diperlukan. "Harga mati, PKS terlarang untuk dikunjungi, terlepas dari apa pun pertimbangan Jokowi," tulisnya. (Baca: Hidayat Pastikan PKS Akan Jadi Oposisi)

    Agus menilai berhubungan dengan PKS merupakan hal yang sangat tidak penting dan tidak ada manfaatnya. Partai tersebut dinilai memiliki agenda terselubung dan tersembunyi di Indonesia. "Jangan pernah beri kesempatan serta peluang apa pun untuk PKS," ujarnya.

    Jokowi diharapkan bisa mengerti dan memahami perasaan para pendukungnya, karena akan banyak yang tidak setuju dengan sikap politiknya yang membuka komunikasi atau bahkan memasukkan partai berlambang padi dan bulan sabit kembar tersebut masuk ke dalam koalisi pemerintahan.

    Petisi ini bertujuan untuk melawan lupa, atas apa yang telah dilakukan PKS. Partai tersebut dinilai sangat tidak menghargai dan menghormati perbedaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga dijadikan salah satu pertimbangan agar Jokowi tegas. "Memaafkan boleh, tapi tidak untuk melupakan," tulis dia.

    SAID HELABY | WWW.CHANGE.ORG

    Terpopuler
    Pakar TI: Tidak Ada Hacker yang Gelembungkan Suara
    Remaja Salatiga Ungguli Insinyur Oxford Bikin Jet Engine Bracket
    Pulang Berlibur, Hotasi Nababan Dieksekusi
    Ahok Lebih Pilih Dian Sastro Jadi Wagub

    SHARE: Facebook | Twitter


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.