Pengemudi Bus di Terminal Purabaya Dites Urine  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sepasang pemudik berdiri di depan bus di Terminal Purabaya, Surabaya (28/08). UPT Terminal Purabaya menyediakan 1638 armada bus antar kota untuk melayani warga yang melakukan tradisi mudik. TEMPO/Fully Syafi

    Sepasang pemudik berdiri di depan bus di Terminal Purabaya, Surabaya (28/08). UPT Terminal Purabaya menyediakan 1638 armada bus antar kota untuk melayani warga yang melakukan tradisi mudik. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Sidoarjo - Menjelang musim mudik Lebaran, awak bus di Terminal Purabaya, Sidoarjo, ramai-ramai melakukan tes urine. Pihak terminal berinisiatif mengecek kondisi kesehatan para pengemudi untuk menekan tingkat kecelakaan selama arus mudik Lebaran di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

    Kepala Unit Pelaksanan Teknis Daerah Terminal Purabaya May Ronald mengatakan pengecekan kesehatan awak bus memprioritaskan pengemudi bus jarak jauh. "Hari ini kami targetkan 80 sopir menjalani tes urine," kata Ronald, Rabu, 16 Juli 2014. (Baca: Jalur Selatan Jawa Barat Siap Dilalui Pemudik)

    Menurut Ronald, dari tes kesehatan itu akan dilihat apakah sopir yang bersangkutan boleh mengemudi atau tidak. Apabila ditemukan indikasi bahwa sopir kurang sehat, Ronald akan merekomendasikan agar sopir itu diganti. "Ini demi keselamatan penumpang," katanya.

    Koordinator Laboratorium Medikayani Widhie Hendarto mengatakan laboratoriumnya ditunjuk oleh Dinas Perhubungan Kota Surabaya untuk melaksanakan uji sampel urine para sopir di Terminal Purabaya. "Hari ini targetnya 80 sopir. Besok giliran di Terminal Tambak Osowilangun, targetnya 30 sopir," ujar Widhie. (Baca: Cegah Macet Akibat Pasar Tumpah, Polisi Buat Pagar Betis)

    Tes urine tersebut, kata dia, digelar untuk mengetahui apakah pengemudi bus pernah mengkonsumsi narkoba ataupun minuman keras atau mengidap penyakit dalam yang belum sembuh. Adapun hasil tes baru akan diketahui pada Jumat pekan ini.

    Samsuri, 51 tahun, sopir bus PO Ladju, mengaku senang dengan adanya tes kesehatan gratis ini. Sebab, dia bisa mengetahui kesehatannya sebelum mengemudi. "Jadi bisa tahu kondisi saya sekarang," katanya. Menurut Samsuri, jika hasil tes menyatakan dia kurang sehat dan tidak layak mengemudi, dia memilih beristirahat di rumah. (Baca juga: PU Siapkan 60 Alat Berat untuk Jalur Mudik)

    MOHAMMMAD SYARRAFAH

    Terpopuler:
    Ahok Tetapkan Syarat Ini Waktu Sumbang Zakat 
    Guru JIS Diduga Pakai Obat 'Magic Stone' 
    Agnes Monica Unggah Foto Nonton Bola Bareng Daniel
    Dewan Pers: Karikatur Jakarta Post Bukan Pidana 
    Relawan Jokowi-JK Temukan Penggelembungan Suara  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.