Dewan Pers: Karikatur Jakarta Post Bukan Pidana  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa membawa poster bertuliskan

    Massa membawa poster bertuliskan "Save Gaza" saat mengikuti aksi peduli bagi Palestina di Bundaran HI, Jakarta, 13 Juli 2014. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Dewan Pers, Yosep "Stanley" Adhi Prasetyo, mengatakan kasus The Jakarta Post yang memuat karikatur The Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) edisi Kamis, 3 Juli 2014, hanya pelanggaran kode etik jurnalistik. Menurut dia, Jakarta Post tak bisa disebut melakukan tindak pidana atas pemuatan karikatur itu. "Polisi harus melihat pelanggaran etik, bukan pidana. Selesainya di Dewan Pers," kata Stanley ketika dihubungi, Selasa, 15 Juli 2014.

    Jakarta Post, ujar dia, awal pekan kemarin sudah mendatangi Dewan Pers dan meminta maaf karena telah ceroboh memuat gambar yang pernah dimuat di media Mesir dan Thailand itu. (Baca: Karikatur ISIS, Jakarta Post Dilaporkan ke Polisi)

    Dewan Pers, menurut Stanley, menyimpulkan media berbahasa Inggris itu telah melanggar Pasal 5 Undang-Undang Nomor 40 tentang Pers. Pasal itu terkait dengan pemberitaan harus menghormati norma-norma agama. Bila pemuatan karikatur itu dianggap pidana, tutur Stanley, malah bisa melanggar prinsip-prinsip kebebasan pers. "Ini tidak sampai ke pidana. Polisi pasti nanti berkoordinasi dengan Dewan Pers," katanya.

    Dia menuturkan Jakarta Post sudah menjelaskan maksud memuat karikatur itu, yang untuk menyindir keberadaan ISIS. Namun, ujar Stanley, mereka tak mencantumkan secara jelas hal yang berkaitan dengan ISIS dalam karikatur tersebut. Menurut Stanley, masyarakat di bawah tak bisa memahami karikatur tersebut dan memiliki interpretasi yang berbeda. "Kalau dimuat di Mesir, orang akan mengerti maksudnya. Tapi orang di sini tidak paham." (Baca: Prabowo Memaki Jakarta Post)

    Hari ini, Ketua Majelis Dakwah dan Tabligh Korps Mubaligh Jakarta Edy Mulyadi melaporkan  Jakarta Post ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia dengan tuduhan penodaan agama sesuai dengan Pasal 156 huruf a KUHP. Koran itu pada 3 Juli 2014 halaman 7 memuat kartun yang mencantumkan kalimat tauhid laa ilaaha illallah dengan posisi di atas tengkorak khas bajak laut. Tulisan tauhid dan gambar tengkorak itu digambarkan di atas panji-panji perang berwarna hitam (Ar-Rayah). Panji-panji seperti ini kerap dikibarkan oleh kelompok ISIS. (Baca: Serangan ISIS Mendekati Mekah)

    Edy menganggap karikatur itu menghina Islam--agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia. Lewat karikatur tersebut, ujar dia, Jakarta Post memberi kesan seolah-olah Islam adalah agama bengis yang senang menumpahkan darah sebagaimana karakteristik bajak laut. (Baca: ISIS yang Ambil Alih Kota di Irak, Siapa Mereka)

    Akhir Juni lalu, milisi ISIS mendeklarasikan berdirinya kekhalifahan Islam di daerah yang sudah dikuasainya, membentang dari Suriah utara hingga Provinsi Diyala di Irak timur.

    LINDA TRIANITA

    Terpopuler
    Mubarok Beberkan 'Bom' Uang di Kongres Demokrat
    Rahasia Kecantikan Angelina Jolie Terungkap
    Goetze: Mimpi Kami Jadi Kenyataan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.