Selasa, 19 Juni 2018

Buya Syafii Ngeri Lihat Kampanye Hitam ke Jokowi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kampanye hitam

    Ilustrasi kampanye hitam

    TEMPO.CO, Jakarta - Tokoh senior Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif, kaget saat berkunjung ke Sumatera Barat, Senin lalu. Musababnya, Buya Syafii, panggilannya, kerap menjumpai masyarakat yang menyatakan takut memilih calon presiden nomor urut dua, Joko Widodo, karena diisukan kafir. (Baca di sini: Selebaran Bermuatan Isu Sara Serang Jokowi)

    "Luar biasa ngeri di sana. Beredar isu Jokowi kafir," kata Buya saat dihubungi, Rabu, 2 Juli 2014. Menurut Buya, informasi bohong bertebaran di banyak tempat. Begitu juga intimidasi dan politik uang. "Rakyat menerima begitu saja," kata mantan Pengurus Pusat Muhammadiyah ini. (Baca juga: Laporan Intimidasi Relawan Jokowi Terus Mengalir)

    Buya mengaku selama dua hari mengunjungi sepuluh titik di Sumatera Barat untuk menepis kebohongan tentang Jokowi itu. Dia mengatakan berkeliling Sumatera Barat bukan sebagai anggota tim sukses Jokowi-Kalla. "Masalahnya, bagaimana menyelamatkan bangsa," katanya. (Baca di sini: Badan Pengawas Pemilu Panggil Fahri Hamzah)

    Dia bersama relawan Muhammadiyah yang mendukung Jokowi-Kalla juga mengklarifikasi berita bohong itu dengan menyebarkan tabloid Obor Rahmatan Lil Alamin. Buya juga melakukan wawancara dengan media lokal seperti Padang Ekspres, Metro, Rakyat Sumbar, Koran Haluan, dan TV Sumbar. Dia juga mengadakan buka bersama dengan sekitar 1.000 warga Muhammadiyah di Masjid Muhajirin.

    LINDA TRIANITA

    Berita Terpopuler

    Trik SBY Agar Tak Kena Tilang Polisi
    Newmont Resmi Gugat Pemerintah ke Arbitrase
    Diminta Pilih Nomor Satu, Maher Zain Pilih Senyuman
    Di Film Baru, Cameron Diaz Beradegan Telanjang
    Aurel Hermansyah Makin Cantik dengan Wajah Tirus
    Hati Sapi Membusuk Ditemukan di Pasar Kediri


     



     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Timnas dengan Trofi Piala Dunia Terbanyak

    Merebut gelar juara di Piala Dunia bukan hal yang mudah. Dalam kompetisi empat tahunan itu, tim nasional dari berbagai negara harus bersaing ketat.