Simbol Nazi Ahmad Dhani Berpotensi Rusak Kebangsaan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pakar Etika Politik STF Diyarkara, Franz Magnis Suseno. Tempo/Aditia Noviansyah

    Pakar Etika Politik STF Diyarkara, Franz Magnis Suseno. Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Budayawan dan filsuf dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Franz Magnis-Suseno, menilai penampilan Ahmad Dhani mengenakan baju bersimbol Nazi mengundang antipati dari dunia luar. Di Barat, khususnya Eropa, simbol swastika dikaitkan dengan Nazi yang otoriter dan menganut fasisme.

    "Bisa merusak bangunan kebangsaan di Indonesia," kata Franz Magnis di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat, 27 Juni 2014.

    Menurut Franz Magniz, seharusnya ada klarifikasi dari tim Prabowo atas penampilan Dhani. "Apakah dia (Prabowo) ingin melakukan fasisme andai jadi presiden," katanya. Jika Ahmad Dhani melakukan blunder, "Bisa juga merusak (tingkat) keterpilihan Prabowo," katanya.(Baca : Tulis Video Nazi Dhani, Jurnalis Time Di-bully)

    Anggota tim advokasi Jokowi-Jusuf Kalla, Taufik Basari, mengatakan Dhani bebas berekpresi dalam berkesenian. Namun, kata dia, seharusnya Dhani mempelajari sejarah dan mengambil hikmah atas kekejian Nazi. "Ini bisa menimbulkan kengerian internasional," kata Tobas, sapaan Taufik. "Bisa saja berimbas pada hubungan diplomatik."

    Menurut Tobas, tim Jokowi tak akan merespons video kampanye Ahmad Dhani ini. "Tak ada hubungannya dengan Jokowi-JK," katanya. Namun, kalau video Dhani dibiarkan, kata dia, komitmen Prabowo-Hatta terhadap demokrasi justru diragukan. "Kami hanya mengimbau agar bangsa ini jangan pernah menenggang kekejaman terhadap kemanusiaan," katanya.

    MUHAMMAD MUHYIDDIN

    Terpopuler:
    Sidang Isbat Penentuan Awal Ramadan Besok 
    Jurnalis Allan Ungkap Pembunuhan Aktivis Aceh 
    Begini Petisi Dokter untuk Wali Kota Airin 
    TNI AL Gagalkan Upaya Pembajakan Kapal Ikan Taiwan  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.