Selasa, 20 November 2018

Napak Tilas Pengungsi Vietnam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Batam:Mata L.M.Quang, 55 tahun berkaca-kaca, memandang kosong ke depan. "Saya sangat haru dan ingat semua tempat rumah kami selama di Pulau Galang sebagai pengungsi,"katanya setibanya di Pulau Galang, Kamis, (24/03). L.M Quang tidak sendiri, ada ratusan bekas pengungsi Vietnam napak tilas ke kamp pengungsi di Galang, selain itu ada juga pengungsi Vietnam di Bidong, Malaysia. Menurut Quang, dirinya menjadi pengungsi ketika terjadi perang saudara di negaranya antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Pada 30 April 1975 Vietnam Utara berhasil menguasai Vietnam Selatan, sehingga banyak masyarakatnya yang memilih mengungsi ke negara lain dengan menggunakan perahu kayu, dan disebut manusia perahu.Di Indonesia manusia perahu asal Vietnam dan Kamboja terdampar di beberapa pulau seperto di Kepulauan Anamabs,Jemaja, Natuna, Tanjung Unggat dan Bintan Timur. Tercatat sejak gelombang pertama pengungsi memasuki wilayah Indonesia sebanyak 250.000 orang sejak 1975 hingga 1996. Perserikatan Bangsa-bangsa bidang Pengungsi United Nation Human Commision Refugees (UNHCR) meminta Pemerintah Indonesia menyediakan tempat penampungan sementara para pengungsi, maka Pulau Galang dipilih sebagai penampungan itu dengan biaya UNHCR.Pada tahun 1996, PBB memberitahukan kepada Pemerintah Indonesia bahwa tidak ada biaya untuk para pengungsi tersebut, maka semua pengungsi yang ada di Pulau Galang direpatriasi ke negara asalnya baik melalui udara maupun melalui laut. "Saya tidak bisa melupakan Pulau Galang, karena di sinilah kami bisa bertahan hidup dan mulai hidup baru di Vietnam,"kata Quang yang kini menimba ilmu di Australia bidang Biologi kepada TEMPO. Pengungsi lain, Thanh Truong Ngoc,54 tahun, menyatakan sangat terkesan dengan perhatian Pemerintah Indonesia yang memperhatikan bekas kamp pengungsi di Pulau Galang.Thanh berada di Galang dari 1981 - 1982 kemudian ke Australia. Kini lelaki beranak lima itu bekerja sebagai operator mesin di Australia dengan upah 600 dolar Australia per minggu. "Terima kasih kami pada Pemerintah dan rakyat Indonesia,"katanya.Menurut Dwi Joko Wiwoho, Humas Otorita Batam, keinginan bekas pengungsi untuk mengunjungi Pulau Galang tersebut setelah dua wartawan mendapat tawaran salah seorang bekas pengungsi di Singapura. "Ingin mengenang masa berada di pengungsian aja,"kata Joko.Tempat yang dikunjungi di Pulau Galang antara lain makam pengungsi, youth center, dan beberapa tempat ibadah serta patung raksasa Dewi Kwan Im atau Quan Nam Im. Rumbadi Dalle

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.