Jumat, 14 Desember 2018

Pesilat Underground Ikut Festival Malioboro 2014  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pesilat dari perguruan Inti Ombak beristirahat menunggu giliran tampil unjuk kebolehan dalam Festival Pencak Malioboro di Jalan Malioboro, Yogyakarta, (2/6). Festival ini upaya para pesilat untuk kembali memperkenalkan keragaman silat Indonesia. TEMPO/Suryo Wibowo.

    Seorang pesilat dari perguruan Inti Ombak beristirahat menunggu giliran tampil unjuk kebolehan dalam Festival Pencak Malioboro di Jalan Malioboro, Yogyakarta, (2/6). Festival ini upaya para pesilat untuk kembali memperkenalkan keragaman silat Indonesia. TEMPO/Suryo Wibowo.

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Sebanyak 5.000 pesilat dari berbagai aliran dan perguruan di Tanah Air dan juga mancanegera dijadwalkan mengikuti perhelatan Pencak Festival Malioboro III pada 30 Mei-1 Juni 2014 di Kota Yogyakarta.

    Uniknya, perhelatan yang digagas komunitas Paseduluran Angkringan Silat serta Tangtungan Project ini juga bakal melibatkan sejumlah aliran silat bawah tanah atau tidak pernah tercatat dalam organisasi Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI).

    "Para pesilat underground ini sengaja diundang agar lebih dekat dan dikenal publik karena masih eksis dengan aliran tradisinya meski tak bergabung dengan organisasi pemerintah," kata Ketua Pelaksana Paseduluran Angkringan Silat Yogyakarta, Ludyarto, Jumat, 16 Mei 2014.

    Menurut Yossy Poerdiono selaku pengurus Tangtungan Project--komunitas yang berfokus pada perkembangan pencak silat--di Indonesia berkembang lebih dari 600 aliran pencak silat. Namun, dari jumlah itu, tak sampai sepuluh persen yang tercatat di IPSI.

    "Paling hanya sekitar 20 aliran saja yang selama ini diadopsi berbagai perguruan silat," katanya. Aliran-aliran itu tak terdaftar karena selama ini IPSI menganut aliran yang lebih mengusung konsep kompetisi atau pertandingan sehingga bisa dilombakan.

    "Nah, aliran ini tak mau gabung karena merasa bukan untuk mengejar pertandingan, jadi tak bergabung karena takut seni tradisi aliran jadi punah," katanya.

    Meski mereka tak bergabung dengan organisasi resmi yang diakui pemerintah, banyak teknik dari aliran ini yang diadopsi sejumlah perguruan pencak silat.

    Yossy menuturkan aliran underground yang diundang dalam festival pencak silat kali ini berasal dari berbagai wilayah. Dari DIY ada aliran Tedjokusuman yang punya kekhasan berupa langkah panjang dan tendangan, dari Jawa Barat ada aliran Cimande yang menonjolkan tenaga dalam, sementara dari Madura para pesilat siap menyajikan gerakan celurit khas mereka.

    "Malah dari Madura tak ada aliran yang masuk IPSI, tapi kami undang juga," kata Yossy, yang menyatakan sedikitnya 20 aliran underground dari berbagai wilayah Tanah Air ikut diundang kali ini. Selain pesilat lokal, sejumlah pesilat asing yakni dari Washington, Colorado, dan Hawaii di Amerika Serikat juga diundang. Mereka sudah memastikan kehadiran dalam acara ini.

    Juru bicara Paseduluran Angkringan Silat, Jito, menuturkan, yang menarik dari perhelatan kali ini adalah adanya festival komposisi gerak yang melibatkan 30 tim pesilat. Setiap perguruan diminta melebur dengan perguruan lain untuk menciptakan sebuah koreografi bersama.

    "Dari festival komposisi gerak ini kami ingin perguruan meninggalkan ego masing masing agar tak merasa lebih hebat, tapi bisa bekerja sama dan saling menghargai," kata Jito.

    Sejumlah program yang juga dipersiapkan dalam festival ini antara lain workshop tentang silat, bazar perguruan silat, dan pawai budaya di sepanjang Jalan Malioboro dengan disertai koreografi tiap perguruan silat.

    PRIBADI WICAKSONO


    Terpopuler:
    Teka-teki Petinggi Negeri Tersangka Haji

    Ridwan Kamil Jadi Calon Wali Kota Terbaik Dunia 

    Pemblokiran Kursi Cegah Ulah Calo Tiket Kereta  



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sayap OPM Kelompok Egianus Kogoya Meneror Pekerjaan Trans Papua

    Salah satu sayap OPM yang dipimpin oleh Egianus Kogoya menyerang proyek Trans Papua yang menjadi program unggulan Jokowi.