Suami Siti Julaeha Menilai Euthanasia adalah Keputusan Terbaik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Rudi Hartono, suami Siti Julaeha, yang akan mengajukan permohonan euthanasia terhadap istrinya, menyatakan keputusan tersebut merupakan jalan terbaik. Ia bersama keluarga besar istrinya, Siti Julaeha, telah meminta pihak Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan (LBHK) dalam pengajuan permohonan euthanasia ini. Menurut pengakuannya, pengambilan keputusan euthanasia ini merupakan keputusan seluruh keluarga besarnya. "Ini sudah merupakan keputusan sekeluarga. Daripada istri saya tersiksa terus," ujarnya kepada Tempo, Sabtu (19/2). Keputusan itu makin kuat setelah dia mendengar pernyataan seorang dokter RSCM yang menyatakan istrinya telah mengalami keadaan vegetative state. "Menurut dokter itu, sudah tipis kemungkinan sembuh bagi istri saya," kata Rudi. Rudi menyatakan, saat ini kondisi Siti Julaeha yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo sejak sebulan lampau, tidak juga membaik. "Badannya sudah habis, tinggal tulang berbalut kulit. Ia tidak pernah sadar, saya tidak tega melihatnya," ujarnya lagi. Disamping itu, ia juga menyatakan, sempat dilakukan pelubangan dengan bor pada sekitar dada dan iga sebelah kanan tubuh istrinya untuk membantu pernapasan akibat paru-paru mengkerut. "Rencananya akan dilakukan operasi lagi di tenggorokan untuk membantu pernapasannya juga," ujarnya pula. Siti Julaeha dinikahi Rudi pada 4 September setahun lalu. Tidak sadarnya Siti Julaeha, menurut Rudi, sejak usai menjalani operasi kandungan di rumah sakit di Jakarta Timur, pada 6 November setahun lalu. Sejak itu, menurut Rudi, Siti terus menjalani perawatan di Rumah Sakit tersebut dalam keadaan tidak sadar sebelum akhirnya dipindahkan ke RSCM dengan bantuan Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan pada akhir Januari lalu. Pihak LBHK sendiri sebelumnya mengaku telah melaporkan kasus dugaan malpraktik ke polda Metro Jaya pada 20 Januari lalu. Lebih lanjut Rudi mengaku, pihak keluarganya telah menghabiskan banyak uang untuk biaya perawatan istrinya tersebut. Menurutnya, setiap hari dibutuhkan sekitar Rp 1,2 juta sampai Rp 2,5 juta untuk membiayai obat-obatan. Namun demikian, ia menyatakan, permohonan euthanasia ini dilakukan bukan atas dasar keberatan terhadap biaya pengobatan istrinya tersebut. "Bukan soal biaya, tapi keputusan ini benar-benar jalan yang terbaik untuk semua," katanya melanjutkan. Rinaldi D Gultom

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.