Minggu, 25 Februari 2018

Kisah Korban Kapal Terbakar di Korea Selatan  

Oleh :

Tempo.co

Jumat, 28 Maret 2014 19:10 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kisah Korban Kapal Terbakar di Korea Selatan  

    Kapal Angkatan Laut Korea Selatan yang tenggelam pada 26 Maret lalu. Tenggelamnya kapal ini diduga akibat serangan terpedo yang diluncurkan oleh militer Korea Utara. AP Photo/Yonhap, Jin Sung-chul

    TEMPO.CO, Slawi - Dua pekan sebelum tewas akibat kecelakaan laut di perairan dekat Pulau Jeju, Korea Selatan, Nuridin, 36 tahun, sempat menelepon ayahnya, Waskuri. "Dia bilang akan pulang Juni untuk menyunatkan Yusuf, anak pertamanya," kata Waskuri kepada Tempo di rumahnya di Desa Dermasandi, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal, Jumat, 27 Maret 2014.

    Nuridin adalah nelayan yang bekerja di Kapal Seongil, Korea Selatan. Senin lalu. Kapal berbobot 38 gross ton dengan sembilan awak itu terbakar. Enam awaknya, lima dari Indonesia dan satu dari Korea Selatan, tewas akibat hipotermia setelah terjun ke laut.

    Dari lima warga Indonesia itu, tiga di antaranya warga Desa Dermasandi, Tegal, yaitu Nuridin, Agus Suswanto, 34 tahun, dan Dedi Iskandar, 27 tahun. Ketiganya masih dalam satu hubungan keluarga. Adapun dua korban tewas lain dari Malang, Jawa Timur, dan Nias. Nuridin menjadi nelayan sejak bujang.

    Selain bekerja di kapal lokal di Jakarta, tamatan SMP itu juga pernah menjadi anak buah kapal (ABK) di Jepang. Di Jepang, Nuridin hanya bertahan selama enam bulan. "Kerjanya terlalu berat, tapi tidak terawat," ujar Waskuri.

    Setelah menikah, Nuridin mengikuti jejak adiknya, Santoso, 27 tahun, yang menjadi nelayan di Korea Selatan. Berangkat pada 2011, ia meninggalkan Yusuf yang baru berumur 1 tahun dan istrinya, Sri Anani, yang sedang hamil tiga bulan. "Ia berangkat sebagai TKI legal, total biayanya sampai Rp 40 juta saat itu," kata Waskuri.

    Selain Santoso dan Nuridin, tiga anak Waskuri yang lain, Sayuti, Amudin, dan Wawan, juga bekerja jadi nelayan di Korea. "Mereka berlima kerja di satu perusahaan, tapi beda kapal. Tempat tinggal mereka juga berdekatan," ujar Waskuri, ayah sembilan anak. Tiga tahun bekerja di Korea, Nuridin belum sekalipun pulang.

    Telepon menjadi satu-satunya alat penyalur rindu Nuridin pada keluarganya di kampung halaman. Selain untuk menyunatkan Yusuf, Nurudin sudah tak sabar ingin pulang karena belum pernah bertemu Kirana, anak keduanya yang kini berumur 3 tahun.

    "Mas Nurudin dimakamkan setelah salat Jumat. Maaf, belum bisa memberi banyak keterangan. Keluarga kami masih berduka," ujar Wawan, 27 tahun, satu dari tiga adik Nurudin yang bekerja sebagai nelayan di Korea Selatan. Wawanlah yang pertama mengabarkan kematian Nurudin kepada Waskuri, Senin lalu.

    Wawan pula yang membantu pengurusan pemulangan jenazah Nurudin, Agus, dan Dedi hingga tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis malam. Berangkat dari Jakarta pada Kamis malam, tiga mobil ambulans yang membawa tiga peti jenazah itu disambut isak tangis keluarga di Desa Dermasandi pada Jumat pagi.

    "Asuransi dan sisa gaji mereka akan segera diserahkan kepada keluarga," kata staf Bidang Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Kementerian Luar Negeri, Susapto Anggoro Broto, yang turut mengantar kepulangan tiga jenazah nelayan itu.

    DINDA LEO LISTY

    Berita Terpopuler
    Jokowi: Terima Kasih Pak Prabowo
    Info Radar MH370 Mungkin Sengaja Disembunyikan
    MH370 Buka Luka Lama Korban Pembajakan MH653  


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Billy Graham, Pendeta Penasehat Presiden Amerika Serikat, Wafat

    Billy Graham, pendeta paling berpengaruh dan penasehat sejumlah presiden AS, wafat di rumahnya dalam usia 99 tahun pada 21 Februari 2018.